Kumpulan Cerita Sex 2018 - Seru dengan pembantu muda Ini merupakan beberapa waktu yg lalu. Namaku Ian tinggal di salah satu kota besar di Jawa Barat. Yang kuceritakan disini yakni bencana waktu saya masih duduk di kelas 1 SMP. Keluargaku tinggal di sebuah komplek perumahan yang cukup jauh dari sentra kota, sehingga suasana antar warganya masih dekat dan cukup dekat satu sama lain.
Semuanya bermula ketika keluargaku menggaji seorang pembantu yang berjulukan Yeyen. Dia merupakan pembantu yang digaji perhari, banyak keluarga di komplek kami yang menggunakan jasanya. Suatu ketika, saya sedang memberi makan kucingku ketika bel pintu berbunyi, saya segera melihat siapa yang datang, ternyata Mbak Yeyen.
“Halo Ian, ada siapa di rumah?” tanya Mbak Yeyen.
“Oh Mbak, kirain siapa. Mama Papa kan jam segini belum pulang Mbak..” jawabku sambil mempersilahkan ia masuk.
“Oh Mbak, kirain siapa. Mama Papa kan jam segini belum pulang Mbak..” jawabku sambil mempersilahkan ia masuk.
“Oh gitu, kalo sendirian aja semoga skalian Mbak temenin aja, kau lagi apa?” tanya Mbak Yeyen lagi sambil pribadi menuju dapur, saya mengikuti dari belakang sambil memandang pantat Mbak Yeyen yang molek dan aduhay. Hari ini ia menggunakan sweater hitam yang dipadu dengan rok coklat sepanjang betis.
“Ga lagi ngapa2in Mbak..” jawabku.
“Ya udah Mbak nyuci dulu ya.” katanya lagi.
saya hanya mengangguk dan pergi ke kamarku main Playstation.
“Ya udah Mbak nyuci dulu ya.” katanya lagi.
saya hanya mengangguk dan pergi ke kamarku main Playstation.
Beberapa jam kemudian saya capek dan mulai tertidur. Tiba2 Mbak Yeyen masuk ke kamarku hanya dengan mengenakan handuk yang dililitkan ke badannya. saya terbangun alasannya yakni bunyi pintu yang terbuka.
“Ian, mama kau punya hair dryer nggak?” tanyanya, sambil mengacak2 rambutnya yang lembap didepan cermin besar di kamarku.
“Mama sih punya Mbak, cuman Ian ga tau tempatnya dimana.” saya berbaring kembali. Mbak Yeyen memang biasa mandi dan makan di rumahku apabila orangtuaku sedang tidak ada, malah kadang2 ia membawa teman2nya untuk nonton DVD, masak apa yang ada di kulkas, hingga tidur2an di kamar Mama sambil ngegosip.
“Yah, kalo gini rambut Mbak bakal usang keringnya dong.”
saya tidak menjawab. Tiba2 Mbak Yeyen melemparkan tubuhnya ke ranjang, sempurna disebelahku sambil tertawa.
saya tidak menjawab. Tiba2 Mbak Yeyen melemparkan tubuhnya ke ranjang, sempurna disebelahku sambil tertawa.
“Uaah, Mbak ikut nungguin disini ya..” katanya. Lipatan handuknya terlepas tapi Mbak Yeyen tidak berusaha merapikannya. Payudaranya yang besar terlihat jelas. Aku bengong, soalnya gres pertama kali itu saya melihat payudara seorang wanita.
“Heh kau ngeliatin apa?” canda Mbak Yeyen.
“Heh kau ngeliatin apa?” canda Mbak Yeyen.
“Dadanya Mbak Yeyen gede..” ucapku polos.
“Bagus nggak? Kamu suka?” tanya Mbak Yeyen lagi. Tapi tanpa menunggu jawabanku tiba2 Mbak Yeyen mendekap kepalaku ke payudaranya sambil tertawa2.
“Bagus nggak? Kamu suka?” tanya Mbak Yeyen lagi. Tapi tanpa menunggu jawabanku tiba2 Mbak Yeyen mendekap kepalaku ke payudaranya sambil tertawa2.
“Nih Ian, isep..! Isep..!” candanya. Sementara saya tidak bisa bergerak alasannya yakni Mbak Yeyen menindihku. Aku hampir tidak bisa bernapas. Mbak Yeyen terus membekapku dengan payudaranya, seringkali putingnya yang coklat dipaksakan memenuhi mulutku. Kira2 10 menit Mbak Yeyen berbuat begitu, saya yang tidak tahu apa2 galau sendiri melihat Mbak Yeyen mulai keringatan dan napasnya terengah engah.
“Ian, buka bajunya dong!” kata Mbak Yeyen sambil berjalan menuju pintu dan menguncinya.
“Ian ga mau, aib sama Mbak!” saya mulai ketakutan alasannya yakni tidak mengerti apa yang terjadi dan kenapa Mbak Yeyen berperilaku aneh. Aku melompat dari ranjang dan berlari menuju pintu, berusaha membukanya meski saya tahu itu percuma alasannya yakni kunci pintu sudah disimpan Mbak Yeyen di atas lemari yang sulit kujangkau.
“Udah sini kamu!” hardik Mbak Yeyen sambil mengangkat tubuhku, saya hanya bisa meronta2 tak berdaya. Lalu Mbak Yeyen membantingkan tubuhku ke atas ranjang, saya sesak, tapi Mbak Yeyen tak peduli, ia pribadi menindih kakiku sempurna dilutut, celanaku dipelorotkan, bajuku dibuka paksa sehingga kancing2 bajuku berhamburan di lantai. Tiap kali saya mencoba bangun, Mbak Yeyen mendorongku kembali, malah kadang2 ia menamparku sambil membentak2 menyuruhku berbaring.
Aku ketakutan sekali sehingga saya pasrah dan hanya bisa menangis. Mbak Yeyen mengocok penisku dan kadang2 mengulumnya hingga keseluruhan penisku masuk ke dalam mulutnya, jari2 tangan kirinya bermain2 di vaginanya. Kira2 15 menit kemudian, ia berjongkok diatasku dan mulai mengarahkan penisku yang menegang ke dalam vaginanya. Aku benar2 galau dan tidak mengerti apapun, yang kurasakan hanya kenikmatan yang luarbiasa ketika penisku masuk seluruhnya ke dalam liang vagina Mbak Yeyen.
“Ahh.. Ahh..” Mbak Yeyen mendesah sementara pinggulnya bergoyang2, kadang memutar, kadang naik turun. Tanganku ditarik sedemikian rupa sehingga memegang payudaranya.
“Cepetan remes..! Yang berpengaruh remesnya tolol!” hardik Mbak Yeyen, saya sudah meremas sekuat tenaga tapi telapak tanganku tidak bisa menjangkau seluruh payudaranya. Plaak!! Mbak Yeyen kembali menamparku.
“Cepetan remes..! Yang berpengaruh remesnya tolol!” hardik Mbak Yeyen, saya sudah meremas sekuat tenaga tapi telapak tanganku tidak bisa menjangkau seluruh payudaranya. Plaak!! Mbak Yeyen kembali menamparku.
“Aaah.. Mau keluar niihh..!” Mbak Yeyen mempercepat gerakannya, badanku yang jauh lebih kecil dari Mbak Yeyen terombang ambing mengikuti gerakannya. Meski ketakutan, saya tidak bisa berbohong jika rasanya nikmat sekali, menyerupai mau kencing tapi beda. Akhirnya saya hanya memejamkan mata ketika spermaku keluar. Mbak Yeyen menyadari saya keluar, dan ia makin mempercepat gerakannya sambil tertawa2.
“Oooh…! Hahaha yummy kan? Aah…! Nnngh..! Mbak juga mau keluar..!” setelah bicara begitu tubuh Mbak Yeyen bergetar dan sedetik kemudian ia mendesah kencang.
“Aaaahhh…!! Nikmatt..!” desahnya sementara tubuhnya berkedut2 mengejang.
Aku tergolek lemas dikala Mbak Yeyen berdiri. Tiba2 ia berjongkok kembali tapi kali ini ia mengarahkan vaginanya ke wajahku.
“Aaaahhh…!! Nikmatt..!” desahnya sementara tubuhnya berkedut2 mengejang.
Aku tergolek lemas dikala Mbak Yeyen berdiri. Tiba2 ia berjongkok kembali tapi kali ini ia mengarahkan vaginanya ke wajahku.
“Aaah.., bersihin Yan, jilatin semuanya!” saya tak bisa lagi memberontak. Tangan Mbak Yeyen memegang kepalaku sementara vaginanya yang lembap digesek2an ke verbal dan wajahku. Aku menangis dan berusaha menolak tapi tenaga Mbak Yeyen jauh lebih kuat.
Dibekapnya mulutku dengan vaginanya sehingga saya kesulitan bernapas, tiba2 semuanya menjadi gelap.


0 Response to "Kumpulan Dongeng Sex Pembatuku Yang Haus Sex Dan Suka Maksa"
Posting Komentar