Baca Kumpulan Kisah Seks Obsesi Pada Penis Muda

Cerita Toket Gede, Cerita Memek Basah, Cewe Bening, Toket Gede,
Baca Kumpulan Cerita Seks - Semenjak persetubuhan liarku dengan Indun di program keberangkatan Ibunya, acara seksual kami semakin intens dan menjadi. Dengan dalih mengantarkan makanan ke rumah Indun yang dikala itu tinggal seorang diri di rumahnya, berkali-kali kami melakukannya. Seluruh penjuru rumahnya telah menjadi saksi biksu agresi terlarang kami, ruang tamu, dapur, kamar tidur orang tuanya dan bahkan kamar mandi. Hanya balkon dan halaman saja yang tidak menjadi medan pertempuran kami berdua. Ya, saya belum cukup abnormal dengan melakukannya di daerah terbuka.

Kegilaan itu berujung pahit, saya seakan terobsesi dengan penis muda milik Indun, hal itu membuatku melupakan kewaspadaanku terhadap janin yang kukandung. Benar saja, dua bulan kemudian saya mengalami pendarahan hebat yang menjadikan keguguran.

Suamiku, Prasojo tampak kecewa dengan keguguranku, namun ia menunjukkan kesabarannya dengan terus berada di sampingku selama masa pemulihannku. Ia benar-benar suami yang baik dan itu menyebabkan rasa bersalah di dalam benakku. Ya, saya telah mengkhianati suamiku, sebuah perselingkuhan dengan anak yang umurnya terpaut cukup jauh, bahkan belum bisa dikatakan dewasa. Kadang penyesalan dan rasa bersalah itu terasa begitu besar, sampai membuatku menangis sendiri. Suamiku benar-benar sosok yang bertanggung jawab, mungkin keguguranku yaitu tanggapan dari Tuhan, mungkin inilah caraNYA mengingatkan atas kelalaianku.

Dan sekali lagi dalam hidupku, saya bersumpah setia kepada suamiku.

Indun sendiri seolah mengerti dengan keadaan yang terjadi, ia sering tiba mengunjungiku, suamiku telah menganggapnya menyerupai anak sendiri. Beberapa kali terlihat suamiku mengobrol bersama Indun, memberinya beberapa hikmah tanpa mengetahui bahwa Indun lah Ayah dari janin dalam kandunganku, sekaligus penyebab utama keguguranku.

“Bu Lani…” lamunanku buyar kala Indun meraih tanganku lembut. Aku menoleh dan tersenyum ke arahnya.

“Kita harus menghentikan ini, Ndun…,” ujarku lirih, tak ingin terdengar oleh suami dan anak-anakku yang mungkin ada di rumah. “Ini semua salah.”

“Maafkan Indun, Bu…” Indun menundukkan pandangannya.

“Bukan salahmu, Ibu yang lebih bersalah dalam hal ini, Ndun,” kubelai rambut Indun dengan lembut. “Lupakan apa yang sudah terjadi dan belajarlah dari pengalaman,” entah dari mana saya bisa mendapatkan kalimat bijak menyerupai itu, mungkin kalimat itu sejatinya untuk diriku sendiri.

Indun mengangguk lemah, “Baik Bu,” ungkapnya seraya tetap menunduk. Tidak usang kemudian saya melihat sosok suamiku memasuki ruangan.

“Kamu nggak dicari Ibumu, Ndun? Sudah hampir maghrib lho,” Suamiku berkata pada Indun seraya tersenyum lembut.

“Eh… iya Om, ini Indun mau pamit,” jawab Indun tanpa berani menatap mata suamiku.

“Inget pesen Om tadi, berguru yang pinter, masa depanmu masih panjang,” suamiku memberi hikmah kepada Indun.

“Siap, Om,” Indun beranjak berdiri dan menoleh ke arahku. “Bu, Indun pulang dulu, mari Om,” ungkapnya sopan.

“Hati-hati di jalan Ndun,” jawabku.
Sejak hari itu Indun secara intens tiba ke rumah untuk melihat keadaanku, kulihat ia sudah sanggup berbaur dengan Rika dan Sangga, anak-anakku. Suamiku pun menyambutnya dengan baik. Seiring membaiknya keadaanku, suamiku meminta ijin padaku untuk kembali ke daerah dinasnya. Anak keduaku Sangga juga meminta ijin untuk kost di daerah yang tidak jauh dari sekolahnya sedang Rika menentukan untuk menemaniku di rumah, kebetulan dikala itu Rika sedang liburan.

“Mi, hari ini sop ayam ya?” Rika menanyakan sajian untuk makan siang yang hendak dipersiapkannya. Anak gadisku ini benar-benar telah tumbuh menjadi gadis yang mandiri, tidak hanya kepiawaiannya dalam mengurus rumah, namun kecantikan dan postur tubuhnya juga telah terbentuk indah. Rupanya ia mengikuti kebiasaanku yang rajin berolahraga untuk menjaga bentuk tubuh.

“Biar mami bantu masak ya?” jawabku seraya berusaha bangun dari tidurku.

“Lhoo nggak usah,” Rika bergegas mendekat dan dengan lembut membaringkanku. “Dokter bilang, Mami harus istirahat total selama satu bulan penuh. Tidak boleh beraktivitas APAPUN,” Rika mengingatkan dengan gayanya yang sok tua, membuatku tertawa geli melihatnya.

“Perasaan yang dihentikan oleh dokter itu aktifitas berat deh, bukan apapun.”

“Ambil amannya aja Mi, aktifitas APAPUN,” Rika menggoyang-goyangkan jari telunjuknya di hadapanku. “Lagipula, Rika dibantu sama Indun kok, beliau cukup cekatan juga dalam problem dapur.”

“Oh, ya sudah kalo Rika sudah ada yang membantu,” ujarku sambil tersenyum. “Adikmu nggak pulang ke rumah? Ini kan hari minggu?”

“Tadi telepon sih pulang Mi, Oh itu dia!” Rika berujar dikala mendengar bunyi mesin sepeda motor memasuki pekarangan rumah. “Ya udah, Rika masak dulu ya Mi?”

Aku tersenyum mengangguk, Rika lantas melangkah keluar dan menutup pintu kamar. Ia benar-benar telah menjadi gadis remaja yang bisa diandalkan, pikirku.

Jarum jam dinding kamarku menunjukkan pukul dua belas siang dikala saya terbangun, rupanya saya sempat tertidur beberapa jam sesudah meminum obat derma dokter. Obat yang diberikan padaku memang mengandung zat penenang, biasanya saya meminumnya di pagi hari dan terbangun dikala sore menjelang. Namun tampaknya kondisi badanku sudah cukup berpengaruh sehingga tidak perlu tertidur selama itu lagi.

Kurasakan kering di tenggorokanku, rupanya itu yang membuatku terbangun, saya duduk dan meraih gelas yang terletak di atas meja kamarku, kosong… tampaknya Rika lupa mengisi gelas itu, dispenser air mineral di kamarku juga sudah habis.

“Rika… Sangga…,” saya memanggil nama kedua anakku, namun hanya bunyi kering yang lemah keluar dari bibirku. Tenggorokanku terasa sangat kering sampai saya tak bisa bersuara lantang. Tidak ada pilihan lain, saya beranjak dari daerah tidurku dan melangkah pelan menuju dapur.

Lantunan musik reggae kesukaan Sangga terdengar melantun dari ruang tengah rumahku, tampaknya di sanalah mereka berkumpul. Aku berjalan melewati ruang tengah namun saya tidak menemukan siapa-siapa di sana. Mungkin mereka masih sibuk memasak, tanpa banyak berpikir kulanjutkan langkahku menuju dapur.

Tidak ada siapa-siapa di dapur. Aku mengambil gelas dan mengisinya dengan segelas air mineral. Air itu terasa sangat segar mengalir di tenggorokanku yang kering. Saat hendak kembali, saya melewati panci tertutup yang masih ada di atas kompor, kutengok isinya, sepanci sop ayam tersedia di dalamnya. Rupanya aktifitas masak mereka telah selesai. Sayup-sayup kudengar bunyi seseorang dari halaman belakang, akupun melongok ke jendela namun tak ada siapapun di sana. Benakku mulai berpikir wacana hal-hal mistis, membuatku jadi merasa ketakutan sendiri. Akupun melangkah kembali ke kamarku.

Dak…dak…

Suara benda keras beradu terdengar samar dikala saya melewati kamar Rika yang tertutup. Kuhentikan langkahku dan memasang indera pendengaranku tajam-tajam, mencoba menangkap sumber bunyi diantara lantunan lagu reggae yang diputar cukup nyaring.

Dak…dak… emhh…

Suara benturan itu terdengar lagi, kali ini diikuti lenguhan seseorang, saya tidak bisa memastikan apakah itu lenguhan laki-laki atau wanita. Yang jelas, bunyi itu berasal dari dalam kamar Rika. Aku menggengam gagang pintu kamar untuk membukanya.

“Pelan… Dik… Ahh…”

Sebuah bunyi yang sekarang terang terdengar mengurungkan niatku membuka pintu. Kali ini jelas, itu bunyi Rika. Suaranya terdengar berbaur dengan nafas yang memburu, ya… ada nafas yang terdengar memburu, apa yang Rika lakukan di dalam sana?

“Ohh Mbak… gini enak??”

Kudengar bunyi laki-laki dari dalam kamar. Aku mengenal bunyi itu, Sangga, anak keduaku. Apa yang tengah dilakukan kakak-beradik itu? Suara mereka seperti… apakah mereka tengah bersenggama?!. Kulayangkan pandanganku ke sekitar dan menemukan sebuah dingklik plastik kecil, kuletakkan dingklik itu di depan pintu dan beranjak naik ke atasnya, mencoba mengintip dari ventilasi di atas pintu. Aku tak mengerti apa yang sekarang sedang kulakukan, ini rumahku dan mengapa saya malah mengintip? Entah, toh tetap saja saya naik dan mengintip.

Apa yang saya lihat dari ventilasi di atas pintu kamar itu sangat mengejutkanku. Rika, anak gadisku tampak menghadap ke arah dinding kamarnya, tubuhnya telanjang lingkaran tanpa sehelai benangpun. Punggungnya merunduk sedang kakinya masih berdiri terbuka, payudara kencangnya tampak terayun-ayun ke depan, mata indahnya terpejam, bibir mudanya setengah terbuka dan sesekali mengeluarkan erangan-erangan erotis, bercampur baur dengan nafasnya yang memburu. Ekspresi wajahnya… menggambarkan kenikmatan yang tengah menderanya.

“Dik.. Ahh…,” Rika menengadahkan wajahnya, tubuh indahnya terdorong-dorong seiring kencangnya sodokan yang diterimanya dari belakang. Ah! Aku hampir saja melewatkan sosok cowok yang sekarang asyik menyetubuhi putriku, tubuh cowok itu tampak cukup berisi, ia sama telanjangnya dengan Rika, ajun cowok itu menarik bahu kanan Rika, menciptakan punggung anak gadisku sedikit menekuk ke atas sedang tangan kiri cowok itu mencengkeram lekuk pinggul Rika. Rambut cowok itu… Oh Tuhan! Dia anakku Sangga!. Rika tengah disetubuhi dari belakang oleh adik kandungnya sendiri!.


Persetubuhan sedarah itu membuatku berdesir, harusnya saya menghentikan kegilaan yang terjadi di rumahku ini tapi entah mengapa saya seolah tertahan tak berdaya. Kurasakan gejolak dalam diriku, apakah saya menikmati apa yang kulihat? Oh… seluruh tubuhku terasa merinding geli melihat bagaimana batang kejantanan Sangga keluar masuk liang kewanitaan kakaknya dengan cepat dan pasti, ukuran penisnya cukup besar, tidak berbeda jauh dengan milik Prasojo suamiku, Ayah kandungnya.

“Ahh… Mbak… lezat banget…,” Sangga melenguh sembari menusuk-nusukkan penisnya ke dalam tubuh Rika. “Ahh… empot terus Mbak….,” ia memejamkan matanya sambil terus meningkatkan ayunan pinggulnya.

“Iya… Shhh… Dik… Mbak mau…,” Rika mengepalkan tangannya dan memukul-mukul dinding. “Teruss Dik… Mbak.. mau… OOuuhhh!”

Tubuh Rika terdorong oleh hentakan keras adiknya sampai melekat rapat ke dinding, sanggup kulihat anak gadisku itu mengejan beberapa dikala matanya terpejam, ia menggigit bibir bawahnya dikala tubuhnya terus saja mengejan dihimpit oleh dinding dan tubuh telanjang adik kandungnya. Ya, saya tahu apa yang Rika alami, wajahnya terlihat memerah, ia tengah orgasme.

“Keluar Mbak?” tanya sanggah tanpa melepaskan penisnya. Rika hanya mengangguk lemah dengan nafas tersengal-sengal. Sangga lantas menarik penisnya lepas dan membalik tubuh Rika. Aku sanggup melihat bulir-bulir keringat di sekujur tubuh mulus dan kencang Rika. Membuat tubuh molek anak gadisku itu tampak berkilau dan menggairahkan.

“Ahh..,” lenguhan kembali terdengar dari bibir muda Rika kala penis Sangga kembali memasuki tubuhnya, kali ini mereka melakukannya dengan posisi berhadap-hadapan. Sangga melumat bibir Rika dengan ganas, merapatkan tubuhnya sampai buah dada Rika melekat di dada telanjangnya. Kulihat Sangga kembali menggerakkan pinggulnya, kembali menyetubuhi abang kandungnya yang sekarang terhimpit antara dinding dan tubuh adik kandungnya.

Kupikir posisi itu cukup sulit untuk melaksanakan persetubuhan dengan tempo kencang, namun sekali lagi perkiraanku salah. Sangga dengan piawai memompa tubuh Rika kencang-kencang, menciptakan Rika terlonjak-lonjak akhir sodokan penisnya.

“Ah… saya keluar mbak…,” ujar Sangga di sela-sela pompaan penisnya.

Disini seharusnya saya menghentikan mereka! Namun sekali lagi saya hanya terdiam, lutut dan lidahku seolah kelu dan tak mau mendapatkan perintah dari nalar sehatku. Aku hanya berharap Sangga tidak mengeluarkan benihnya di dalam tubuh Rika, saya berharap Rika masih punya cukup nalar sehat untuk tidak membiarkan adik kandungnya menghamilinya.

Harapanku sirna dikala kulihat Sangga melesakkan dalam-dalam penisnya dan menggeram, tubuhnya mengejan beberapa saat, menunjukan ia mencapai ejakulasinya. Oh tidak! Apa yang akan terjadi dengan keluarga ini jikalau Rika mengandung anak dari adik kandungnya sendiri. Oh Tuhan! Aku merutuk dan meratap dalam hati.

Kulihat mereka terdiam untuk sejenak, sebelum Sangga mencabut penisnya. Untunglah! Aku bersyukur dalam hati dikala melihat Sangga melepaskan sesuatu dari penisnya, rupanya ia memakai kondom. Untunglah masih ada nalar sehat dalam diri anak-anakku.

Tubuh telanjang Rika merosot lemas sampai ia berjongkok di atas lantai, kulihat ia masih mengatur nafasnya. Tubuhku masih saja terasa merinding dan kewanitaanku sekarang terasa lembab. Apa yang salah dengan diriku? Mengapa tubuhku menandakan bahwa saya menikmati mmengintip persetubuhan sedarah yang dilakukan kedua anak kandungku. Ini salah! Ini benar-benar salah!.

“Ayo mbak.”

Suara seorang laki-laki membuyarkan lamunanku, bukan… itu bukan bunyi Sangga, saya mengenal bunyi itu… itu bunyi Indun! Dan benar saja, kulihat Indun sedang membantu Rika berdiri dan membaringkan tubuh telanjang anak gadisku ke atas kasur. Kulihat Indun yang juga telah telanjang menarik kedua kaki Rika sampai terjuntai di tepi ranjang, kulihat Indun menggesek-gesekkan penisnya yang telah ereksi ke sepanjang bibir kewanitaan anak gadisku.

Dan sekali lagi Rika melenguh dikala penis Indun, bocah Sekolah Menengah Pertama kelas tiga itu memasuki tubuh sintalnya. Rika hanya terbaring pasrah dikala Indun menggoyang, meremas dan menghisap buah dadanya, Sesekali Rika tampak ikut bergoyang. Berarti sedari tadi Sangga dan Rika melaksanakan persetubuhan di hadapan Indun dan sekarang Indunlah yang menikmati tubuh anak gadisku.

Seketika itu pening menyerang kepalaku, terlebih lagi dikala saya melihat Sangga naik ke atas ranjang, masih dalam keadaan tanpa busana dan penis yang belum tegang. Kulihat Sangga, putraku mengarahkan penisnya ke bibir Rika, abang kandungnya.

Aku bergegas turun dan berjalan tertatih menuju kamarku, berbaring dan bersembunyi di balik selimutku. Kepalaku terasa pening, tubuhku gemetar, lututku terasa lemas dan kewanitaanku telah basah. Kupejamkan mataku dan berusaha mengusir bayangan terakhir dari apa yang kulihat, bayangan tubuh indah anak gadisku, Rika yang tengah mengulum penis Sangga, adik kandungnya, dikala vaginanya disodok oleh penis Indun. Ah! Seharusnya saya tidak mengawali semua ini…. Seharusnya persetubuhanku dengan Indun tak pernah terjadi.


Sore itu saya gres saja selesai menurunkan pakaian dari jemuran di belakang rumah, sudah enam bulan berlalu semenjak saya melihat hal terlarang yang seharusnya bisa saya hentikan. Kadang saya masih merasa miris mengingat apa yang kulihat, namun saya tetap berusaha tampil tegar, seolah saya tidak pernah melihat insiden itu. Rika sekarang telah kembali ke kesibukan kuliahnya, begitu pula dengan Sangga yang tak lagi tinggal di rumah. Indun? Bocah tetanggaku itu sudah jarang sekali terlihat, tampaknya ia menyadari dingklik yang saya tinggalkan begitu saja di depan pintu kamar Rika.

Kudengar bunyi mesin sepeda motor memasuki pekarangan rumah. Kulihat Rika datang, mengenakan kemeja berwarna coklat khaki dan celana jeans ketat, dengan rambut panjang hitam yang tergerai indah membuatnnya tampak sangat anggun.

“Lho, tumben nih pulang? Kan belum hari minggu?” sapaku dikala ia mencium tanganku. “Mbak mau dimasakin apa buat makan malam?” tawarku
padanya.

“Mi…,” Rika memanggilku lirih, pandangan wajahnya merunduk, seolah telah melaksanakan sebuah kesalahan. Seketika itu firasat jelek menyergapku. “Aku hamil…,” ucapnya lemah.

Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Kabar yang dibawa anak gadisku bagai petir yang menyambar di siang bolong.

“Siapa Ayahnya? Pacarmu?” tanyaku menyelidik.



“Bukan,” Rika menggeleng lemah. “Ayahnya… Indun.”

Dan seketika itu saya kehilangan kesadaranku.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Baca Kumpulan Kisah Seks Obsesi Pada Penis Muda"

Posting Komentar