Baca Kumpulan Dongeng Seks 2019 Istri Kakak Tukang Bakso

Baca Kumpulan Cerita Seks Istri Abang Tukang Bakso - Pada dasarnya, gua ini orang yang bahagia bergaul. Gua orang yang gemar berada dalam sebuah komunitas atau perkumpulan. Baik yang positif (apalagi) yang rada negative. Hehe.

Gua ini orangnya supel. Suka perempuan

Tapi, ibarat halnya kebanyakan masyarakat urban, masyarakat kelas menengah ngehek, gua justru luput menjalin hubungan dengan tetangga sekitar.



Gua gak tau siapa-siapa tetangga yang tinggal bahkan disebelah rumah gua sendiri. Tapi sebetulnya, selain alasannya yaitu memang gua yang kurang peduli juga alasannya yaitu sebelah rumah gua itu kontrakan rumah toko (ruko) yang penghuninya sering berganti seiring trend yang sedang terjadi.

Kalo trend hujan, biasanya ruko diisi sama tukang bakso. Kalo trend kemarau, diisi sama tukang cendol. Gua gak tau bakal diisi sama tukang apa kalo di Indonesia ada trend salju. Besar kemungkinan diisi sama tukang jamu.

Suatu hari, dirumah gua menggelar sebuah pertemuan yang dihadiri ratusan orang. Karena rumah gua gak cukup untuk menampung ratusan orang (rumah gua cuma cukup menampung 99 orang. Hehe) maka terpaksa harus menggelar tiker hingga keluar rumah, yaitu jalanan komplek yang sekaligus menjadi jalanan umum masyarakat sekitar menuju jalan raya utama.

Gua gres hingga rumah jam 8 malam dan cukup kaget melihat rumah gua kolam studio JKT48. Gua pikir omongan nyokap dipagi hari, “Nanti malem ada program dirumah..” cuma program rutin macem pengajian atau arisan warga, ternyata lebih dari pada itu.

Karena enggan, “permisi-permisi..” untuk masuk ke dalem rumah, gua pun hasilnya menunggu program selesai disebelah rumah. Diruko tukang jamu, eh, ruko tukang bakso.

Satu jam berlalu sambil ngobrol ngalor-ngidul sama kang bakso yang tau muka tapi tidak tau nama gua, begitu pun dengan gua sendiri. Akhirnya kami pun berkenalan. Dan hasilnya kang bakso yang berjulukan Mas Mujiono ini gua pake. Yakali!

Mas Muji, begitu biasa ia disapa, usianya hampir 50 tahun. Dia gres punya satu anak perempuan, namanya Ria. Usianya tak lebih dari 10 tahun. Sedang lucu-lucunya. Waktu gua ngobrol sama Mas Muji, Ria beberapa kali keluar masuk menggali perhatian gua yang sebelumnya, ketika pertama kali melihat dia, gua menggodanya. Anak kecil tau sendiri kalo digodain, maunya terus dan terus.

Karena tak berpengaruh menahan kencing, gua pun meminta izin Mas Muji untuk pakai kamar mandinya. Mas Muji kemudian mempersilahkan gua sesudah sebelumnya masuk ke dalam. Besar kemungkinan ia sedang membersihkan kamar mandinya semoga “layak dipinjam”.

Ruko Mas Muji ini mempunyai tiga ruangan/petak. Petak pertama tempatnya berjualan, petak kedua kamar tidur, dan petak terakhir dapur serta kamar mandi. Lebarnya 4 meter dan panjang 10 meter. Yang berminat ngontrak silahkan pm. Lah!

Saat masuk kedalam, menuju kamar mandi, ada istri Mas Muji, sedang menonton tv. Karena gua diantar Mas Muji, gua pun hanya sepintas kemudian melihat istrinya yang sedang ‘diusel-usel’ sama Ria.

Setelah selesai buang hajat, (yap, abis kencing, mendadak gua mau boker) gua pun keluar kamar mandi. Saat gres saja keluar dari area dapur memasuki area kamar tidur, Ria (kembali) ngajak bercanda. Dia sembunyi dibalik tembok, kemudian ibarat seperti mengagetkan gua sembari memeluk sekitaran kaki dan paha gua sambil tertawa cekakakan.

Mas Muji yang sedang melayani pembeli terdengar memperingatkan buah hatinya itu untuk tidak mengganggu. Tapi apakah gua merasa terganggu? Tentu tidak. Kejadian itu gua manfaatkan untuk melihat dengan seksama sosok istri Mas Muji.

“Wow..” Gerak verbal gua ketika melihatnya. Istri Mas Muji kemudian meminta Ria untuk kembali anteng atau duduk dikasur. Gua sempat tersenyum dan menganggukkan kepala ketika saling menatap dengan istri Mas Muji. Dia pun balas tersenyum dan mengangguk.

Mas Muji ini tampaknya punya aji-ajian dari mbah dukun. Karena kalo dicari alasan logis perempuan muda, cantik, dan montok macam istrinya ini mau ‘diajak’ susah menjalani hidup sama dia, gua gak nemuin.

Istrinya Mas Muji ini cuantik, rek!

Untuk bersanding sama lelaki umur 50 tahunan yang berprofesi sebagai kang bakso, istrinya malah sanggup dibilang anggun banget.

Bukan bermaksud merendahkan tukang bakso, tapi wajarnya perempuan anggun yang umurnya terpaut 20 tahun dengan seorang lelaki, cuma akan menikah sama kang korupsi, kang tender, atau kang-kang lainnya yang punya harta melimpah. Lah Mas Muji?

Nama istri Mas Muji ini tak lain dan tak bukan yaitu Teh Lilis. Dia dipanggil “Teh” alasannya yaitu lahir dan besar di … Ambon. What? Hehe.

Teh Lilis ini aseli Ciamis. Dia berkenalan dengan Mas Muji diarea wisata pantai daerahnya. Selang sebulan perkelanannya itu, Teh Lilis dilamar dan kemudian dinikahi kemudian dibojong Mas Muji ke Jakarta.

Ini yang tadi gua bilang kalo Mas Muji punya aji-ajian. Saat berkenalan dan hendak mempersunting Teh Lilis, perjuangan bakso Mas Muji hanyalah sekala gerobak dorong yang mana tidak mempunyai pelanggan tetap. Mas Muji mengumpulkan manfaatnya berdagang selama lebih dari 10 tahun untuk menikah dan mencari peruntungan lebih besar dengan mengontrak toko, bahasa kitanya, mangkal. Agar punya pelanggan tetap dan perjuangan berkembang.

Laba selama 10 tahun itulah modal Mas Muji menemui orang renta Teh Lilis dan memboyongnya ke ibu kota. Kalo Mas Muji gak punya aji-ajian, rasanya orang renta Teh Lilis enggan menyerahkan buah hatinya yang anggun nan montok itu.

Sejarah singkat diatas, disponsori pribadi oleh Mas Muji sendiri (selain dugaan punya aji-ajian, tentu saja). Keabsahan dan keakuratannya terang terverifikasi serta sanggup di pertanggungjawabkan. Ngok!

Tidak ada hal istimewa yang terjadi sesudah perkenalan dengan tetangga sebelah rumah gua ini. Semua kembali normal ibarat biasanya, seiring selesainya program yang berlangsung dirumah gua. Janganlah kalian berharap gua pribadi doggiestlye sama Teh Lilis disaat Mas Muji menggodok gilingan baksonya, jangan! Semua berjalan ibarat hari-hari sebelumnya.

Awal mula perkenalan pribadi gua sama Teh Lilis yaitu ketika gua hendak keluar rumah. Waktu itu gua memarkirkan kendaraan disebelah rumah atau lebih tepatnya didepan ruko Mas Muji alasannya yaitu lupa membawa pulpen. Ou, ouw. Jangan sepelekan pulpen. Googling, ‘lost your pen’ untuk keterangan lebih lanjut.

Karena masih pagi, warung Mas Muji masih tutup. Itu kenapa gua santai aja parkir didepan rukonya. Sekembalinya mengambil pulpen, gua ketemu Ria sama ibunya yang mau berangkat ke sekolah. Gua pun dengan tulus tulus tanpa niat kotor mengajak mereka bareng.

Sebenarnya jarak antara area sekolahan sama rumah gua tidaklah jauh-jauh amat. Bahkan tidak lebih dari 2 km. Tapi atas dasar perputaran ekonomi, masyarakat sekitar rumah gua lebih menentukan naik ojek ketimbang jalan kaki. “Bagi-bagi rejeki..” begitu alasan dari keengganan berjalan kaki masyarakat urban ketika ini.

Teh Lilis awalnya sempat menolak alasannya yaitu mungkin malu atau segan. Tapi alasannya yaitu Ria pribadi sepakat dan naik ke dalam kendaraan, Teh Lilis tak sanggup berbuat apa-apa.

Teh Lilis tampak malu dan kaku, ia membatasi gerak Ria di dalam mobil. Gua sesekali mnggoda Ria dan meng-gpp-kan perjuangan Teh Lilis meredam tingkah random anaknya. “Gpp, Mba.. Ih, si Mba, kaya gak pernah kecil aja..”

“Bapaknya mana? Masih tidur ya?” Kata gua, bertanya pada Ria yang tampak antusias (mau gua sebut ‘norak’ ga tega) mencet-mencet dan melihat monitor didepannya. Ria hanya menjawab sepintas kemudian tanpa melihat kearah gua, “Iya..” katanya.

Teh Lilis yang menyadari tingkah anaknya menggelengkan kepala dan tersenyum malu. Karena anaknya tak menggubris, gua pun kemudian mengajak berbicara ibunya. Eaaa. Kalo kata pepatah, “Habis jatuh tertiban janda”

Kalo kata orang jawa, malahane.

“Mba, siapa namanya?”
“Lilis..”
“Aslinya juga satu kawasan sama Mas Muji?”
“Oh, ngga. Saya mah dari Ciamis..”
“Ooh, urang sunda. Teteh, dong ya, manggilnya..”
“Hehe, iya..”

Lagi-lagi kalian jangan berharap gua pribadi akan meng-wot-kan Teh Lilis didalam mobil. Karena tak usang dari dialog perkenalan diatas, kami tiba diarea sekolahan. Lagipula masih ada anak dibawah umur.

Setelah kami berpisah semuanya kembali normal ibarat biasanya lagi. Tak ada niat kotor, tak ada pikiran mesum, meski bertemu dan bertukar senyum dengan Teh Lilis di hari-hari berikutnya.

Sampai akhirnya, awal mula kemesuman yang kalian tunggu-tunggu hadir juga.

Gua kedatangan tamu dari jauh, seorang teman lama. Kolega gua dalam perjuangan membawa cewe-cewe mabuk ke dalam gubuk.

Namanya Udjo. Saat ini ia sudah tinggal diluar kota bersama istri, anak, dan ibu mertuanya. Sepaket.

Gua mengajak Udjo makan bakso ditempat Mas Muji alasannya yaitu enggan menambah kemacetan ibu kota diakhir pekan. Entah alasannya yaitu final pekan atau habis hujan, ruko Mas Muji kebanjiran pembeli.

“Alhamdulillah, ya Mas kebanjiran pembeli, bukan kebanjiran air got!” Kata gua, coba mencairkan raut sibuk Mas Muji sehingga membuatnya tertawa. Karena ramai, tentu saja, Teh Lilis membantu suaminya melayani pembeli.

Saat itulah, Udjo memberi kode dengan menyolek-nyolek paha gua. Semacam isyarat yang berbunyi, “Bro, Anjirr. Bininya cakep bener nih tukang bakso!”
Gua hanya tersenyum dan sesekali menghentikan colekan Udjo. “Lu kata gua sabun!” kata gua juga dalam bahasa isyarat. Isyarat laraswati

Gua sama Udjo pun terlibat dialog tanpa bunyi ketika menunggu baksonya datang. Kalian tau macam mana dialog tanpa suara, kan? Taulah, pasti. Haha.

Gua menyikut Udjo ketika ia mulai ekstrim memandang Teh Lilis yang entah sedang mengambil kembalian atau mencuci mangkok. “Lah, elu mah enak, mau ngeliatin ia pake muka mesum macam apa juga gak masalah. Gua, yang gak enak!” Kata gua ketika kembali berbincang dirumah.

“Tapi asli, bro. Itu tadi mbanya boleh tuh, asli. Lah, lakinya aja udah aut, bro!”
“Aut?” Tanya gua, gak ngerti.
“Iya, aut. Tua, bego!” Jawabnya menjelaskan sambil tertawa.

Gua pun tertawa dan mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Tapi Udjo ibarat sudah dirasuki iblis mesum piaraan gua sendiri. Dia berkata dengan begitu yakin, “Kalo gua jadi lu, bro. Gua sikat tuh bininya kang bakso! Asli!”
“Sikat, ndasmu sempal!” Balas gua menyudahi kemesuman yang ada.

Udjo benar-benar menginspirasi gua untuk menggagahi Teh Lilis. Dia seolah menunjukkan gua keyakinan kalo Teh Lilis niscaya mau diajak selingkuh. “Asli, niscaya mau!” begitu kata Udjo, dengan keyakinan tingkat wali.

Dan, iblis pun menyusun situasi mesum untuk gua.

Malam itu gua sampe rumah sudah sangat larut, sekitar jam 1an. Gua ngeliat Teh Lilis sedang belanja diwarung klontong milik orang Madura, yang pernah gua tanya, “Buka 24 jam ya pak?” Dijawab, “Ngga, cuma sampe pagi kok..” Okee.. Makasih pak..

Setelah markir kendaraan, gua bergegas ke warung klontong itu yang jaraknya tak jauh dari rumah gua.

“Eh, Teh Lilis.. Belum tidur, Teh?”
“Oh, iyaa..” Jawabnya malas. Duh, gak ada peluang nih, batin gua.

“Beli apaan, Teh..” Tanya gua lagi.
“Hah? Ituh, tau nih, bapaknya Ria. Minta makan mie..” Jawabnya setengah terkejut. Teh Lilis tampak murung dan melamun. Gua memandanginya dengan seksama. Baru ngeliatin ia aja, dada gua udah berdebar. Kaki gua gemeter. Dan, yap! Iblis berbisik, “tuh bos, ia nyebut Mas Muji “Bapaknya Ria” bos, bukan “Suamiku”. Itu artinya sanggup digoyang imannya, bos! Lanjut, bos!”

“Beli apa mas?” Tanya Teh Lilis? Bukan! Tanya orang Madura. Membuyarkan lamunan gua menatap Teh Lilis.

“Oh. Rokok pak.. Lupa saya. Sama kopi juga deh..”
“Seduh sekalian kopinya?”
“Gak usah, pak. Eh, tapi kalo airnya gres mendidih, boleh deh..”

Tak disangka, Teh Lilis ikut bicara.

“Jam segini malah mau ngopi, mas. Gak tidur emangnya?”
“Hehe, iya Teh. Masih ada kerjaan..”
“Emang, Mas kerjanya dimana?” Tanyanya lagi. Sambil bayar gua ngomong, “Kenapa? Teteh mau ikut? Hehe.” dengan pandangan menggoda. Teh Lilis sesaat kaget, kemudian tertawa.

“Duluan, Teh..” Kata gua, kemudian cabut dari warung. Teh Lilis masih menunggu belanjaannya. Dan tak lama, ia pun bergegas pulang.

Teh Lilis cuma berjarak 3 langkah dibelakang gua. Gua sengaja memperlambat jalan gua. Teh Lilis dilema, antara mau duluin gua atau ikutan jalan lambat. Dia milih opsi pertama, mungkin alasannya yaitu sudah ditungguin suaminya.

“Ayo, mas..” Katanya ketika berada disebelah gua sesaat mendahului.

“Oh, iya Teh..” Balas gua, sok hirau taacuh dengan akting mainan gejet. Dalam hati bergejolak, “minta-ngga-minta-ngga..” Akhirnya gua memilih, Ngga! Haha, cupu banget gua. Minta nomornya aja takut! Yaiyalah, takut. Bini orang, sob!

Tapi iblis punya rencana lain. Saat berada didepan ruko/rumah Teh Lilis, ia kembali bersuara sebelum masuk. Seolah menunjukkan kode, kalo ia mau kok diajak selingkuh.

“Awas, Mas, kesandung! Hehe” godanya, yang melihat gua jalan sambil menatap layar gejet. Gua sok cool, menengok kearahnya dan hanya tersenyum. Ingin rasanya ngomong, “Teh, minta nomor teleponnya, Teh..” Tapi itu namanya main kotor. Kemungkinan didenger Mas Muji besar, jadi gua urung melakukannya.

Sampai kamar, gua menyusun rencana dan tidur. Kopi yang gua beli dan udah diseduh, yang hanya menjadi kamuflase itu pun tak tersentuh. “Biarlah jadi rejeki semut..” Batin gua, kemudian tidur.

***

Pagi-pagi sekali gua bersiap menjalankan aksi. Hemm, ibarat apa agresi gua? Stay tune, gaes!

Pagi-pagi sekali gua sudah berada di area sekolahan tempat Ria sekolah.

Iblis benar-benar sudah menguasai diri gua. Entah dimana keberadaan malaikat.

Rencananya, gua akan mulai mendekatkan diri sama Teh Lilis ketika ia menunggu Ria. Dan, melihat umur Teh Lilis yang gak tua-tua amat, dugaan gua ia niscaya gak akan ikut nunggu Ria sambil ngerumpi sama ibu-ibu lain yang juga mengantar anaknya.

Tapi dugaan tinggal dugaan. Teh Lilis ikut membaur dengan ibu-ibu. Iblis memberi celah dengan tidak adanya ibu-ibu yang berada di sekitar Teh Lilis yang gua kenal. Jadi, besar kemungkinan juga gak ada yang mengenal gua. Tinggal kemudian gua mencari celah untuk “dilihat” Teh Lilis.

Mulai dari bersiul kearah Teh Lilis, hingga melambai-lambaikan tangan, ia tetap tak sadar keberadaan gua. Tiba-tiba saja ide muncul ketika melihat bocah sd keluar dari salah satu kelas (bukan kelasnya Ria), gua pribadi mengiming-imingin jajanan dan mengantarnya kembali ke kelas seperti gua yaitu sodaranya.

Teh Lilis sedikit kaget melihat keberadaan gua. Gua mengangguk dan tersenyum kearahnya. Setelah si bocah masuk kelas, gua menghampiri Teh Lilis.

“Nganter? Siapa?” Katanya, membuka pembicaraan.
“Oh, iya. Keponakan Teh..”
“Oohh..” Responnya sambil beranjak dari tempat duduk hendak membeli jajanan.

Gua sih yakin kalo ia cuma ngasih peluang ke gua, semacem kode minta ditelanjangin. Atau minimal ini settingan iblis.

“Nungguin sampe pulang, Teh?” Tanya gua. Dia gak gak menjawab, hanya mengangguk. Raut wajahnya tampak risih. Seketika gua bagai tersambar petir. “Anjir, gua cuma kegeeran nih..” Batin gua.

“Teh..” Sapa gua lagi. Pantang menyerah.
“Iya..” Jawabnya, masih dengan raut wajah risih dan cenderung was-was. Gua pribadi menyodorkan hp dan minta nomor teleponnya. Dang! Hp gua gak direspon.

Tapi ia malah bilang, “Nomor Mas aja berapa?” sambil mengeluarkan hpnya dan gua pun pamit duluan sesudah menunjukkan nomor hp.

Gua sih ga yakin ia bakal ngontek gua, tapi atas dasar positive thinking untuk kelakuan negative, gua menunggu kontak Teh Lilis. Tak hingga satu jam, ada pesan masuk ke hp gua.

“Ada apa ya, Mas? Maaf, saya risih ngobrol ditempat umum. Takut dikira macem-macem. Lilis.”

Hhhuuaaa.. Teh Lilis. Macam orang dulu aja ngirim Short Messages Service. Hehe

“Hehe, kalo gitu saya Teh yang minta maaf. Ga ada apa-apa Teh, mau kenal aja. Mau ngobrol-ngobrol. Kalo smsan gini masih risih ga, Teh? Hehe”

Baca Juga - Gejolak Birahi Mamang si Tukang Sayur

“Ya kalo sms gini ga risih. Kan gak ada yang liat. Mau kenal? Kan udah kenal. Ngobrol kok sama ibu-ibu sih Mas, sama yang masih gadis aja atuh.”

“Duh, Teh. Kalo sama gadis mah ribet Teh, ambekan. Dikit2 ngambek. Hehe. Teh Lilis tiap hari nungguin Ria?”

“Yah Mas, ibu-ibu juga sering ngambek kok. Namanya juga perempuan. Heee. Iya, tiap hari nungguin. Mas tadi anter anaknya ponakan? Kok gres liat.”

“Hehe, ngga Teh. Sebenernya cuma alesan buat ketemu Teteh aja ”

“Hmm. Mas, tolong jangan nelepon saya yah klo saya lagi dirumah. Takut bapaknya Ria tau nanti malah nyangka macet-macet.”

Pesan terakhir Teh Lilis gak gua bales, tapi gua berinisiatif pribadi meneleponnya. Teh Lilis terasa begitu segan dan risih ketika mendapatkan telepon gua. Tapi meski begitu, ia juga tak memadamkan percikan untuk digoda. Gua sebagai lelaki normal yang absurd tentu saja tak melewatkan peluang begitu saja.

Gua mencoba membuatnya nyaman berbicara sama gua. Pelan-pelan Teh Lilis mulai ‘biasa’ dan enjoy dalam berbicara. Sesekali ia bercerita juga bertanya. Nah, kedua hal tersebut yaitu koentji sebuah pedekate berhasil atau tidak.

Akhirnya Teh Lilis menyudahi dialog via telepon itu alasannya yaitu jam pulang Ria sudah tiba. Gua longok jam tangan, ‘pukul 09:50 WIB’.

Diakhir dialog gua sempet ngomong, “Kalo lagi suntuk sms saya aja, Teh. Siapa tau malah tambah suntuk..” seraya tertawa. Teh Lilis juga tertawa lepas ketika menutup teleponnya.

Gua pulang kerumah waktu waria pun belum dandan. Pikiran gua dipenuhi strategi-strategi menelanjangi Teh Lilis.

Dan sepertinya, Teh Lilis ini memang minta ditelanjangi. Dia sms gua gak usang sesudah gua hingga rumah.

“Tumben Mas jam segini udah pulang? Gak jalan-jalan dulu sama pacarnya? Lagi marahan ya.. Hehehe”

Gua sempat kaget mendapati sms Teh Lilis, alasannya yaitu pas gua liat sebelum masuk rumah, Teh Lilis lagi momong Ria di bersahabat Mas Muji. Mas Muji sendiri sedang melayani pembeli yang gak banyak-banyak amat dan gak sedikit juga.

“Hehe, sanggup aja Teteh. Lagi nonton tv apa masih di depan Teh? Tadi saya lihat kan Teteh di depan.”

“Iya, lagi nonton tv. Udah ga di depan, banyak pembeli. Lagi sekalian nidurin Ria.”

“Nidurin Ria? Mau juga dong Teh, ditidurin. Ahahaha. Becanda, Teh. Loh, banyak pembeli kok gak bantuin Mas Muji?”

“Hmm. Untung cuma becanda. Bantuin kok, tapi sambil nonton tv. Heee.”

“Owgitu..”

Biajingan, gua keabisan ide sampe cuma begitu doang bales smsnya. ‘Owgitu..’ Sms macam apa itu? Macem lagi wasapan atau bbman aja. Padahal di sms tersedia 140 karakter. Eh, bener apa ngga ya? Bodo, ah. Haha.

Tapi ditengah keputusasaan balesan sms gua, Teh Lilis memainkan perannya.

“Besok nganter lagi Mas?”

“Nganter, bareng aja Teh.”

“Gak ah. Ngerepotin.”

“Yah, Teh. Timbang gitu aja ngerepotin.”

“Heeeehe. Boleh deh kalo gak ngerepotin.”

“Eh, sebenernya emang ngerepotin sih Teh. Kecuali kalo abis nganter trus Teteh nungguin Ria-nya diluar sama saya, gres gak ngerepotin.”

“Hmm. Keluar kemana Mas?”

“Gak usah jauh-jauh Teh. Biar jam setengah sepuluh udah sampe sekolahan lagi. Kemana aja, yang penting sanggup ngobrol-ngobrol.”

“Gak ah. Takut ada yang liat Mas.”

“Ya kalo gitu, kita pergi ketempat yang gak ada orang liat. Hehe.”

“Mas sanggup aja. Udahan dulu ya, Mas. Jangan sms lagi.”

Huhu. Yes!

07:00 WIB

Besoknya, ibarat yang sudah dismskan semalem, gua nganter Ria dan Teh Lilis dengan bergaya seperti gak janjian.

Teh Lilis sempat bertanya, “Keponakannya mana Mas?” waktu perjalanan ke sekolah. Tapi gak gua jawab, alasannya yaitu pun ia nanya dengan raut wajah menggoda. Jiguri.

Setelah hingga sekolahan, Teh Lilis mengantar Ria ke kelas. Gua kemudian meneleponnya, memberitau kalo gua nunggu diseberang jalan utama sekolahan. Teh Lilis hanya membalas dengan suara, “Hmm.. He’em.. Iya. Iya. He’em..”

07:30 WIB

Tak hingga 20 menit, Teh Lilis sudah masuk ke dalam kendaraan beroda empat yang gua parkir di minimarket. Gua sedang berada di dalam membeli ‘perlengkapan perang’.

Mobil sengaja menyala dan gak gua kunci, Teh Lilis menjalankan semua perintah gua. Nice.

“Kemana Mas?” Tanya Teh Lilis waktu gua gres masuk mobil.

“Kemana ya?” Kata gua sambil memandanginya dari atas hingga bawah, tanpa ada gangguan sedikitpun. Muka Teh Lilis seketika memerah. Kemudian memalingkan pandangannya.

Teh Lilis hanya menggunakan celana piama. Celana tidur dipadu dengan daster sedengkul dan jaket. Badannya yang montok terlihat dari balik pakaian yang berbahan lemas itu. Meski jaket blazernya coba menutupi.

Gua mulai badung dengan menyentuh bab rusuknya. Teh Lilis reflek bergoyang. Sekali, dua kali, hingga hasilnya Teh Lilis menghadap gua, kemudian meraup wajah gua. Seperti sedang menampar, tapi tanpa tenaga.

“Bajingan, berani nyentuh gua nih ibu-ibu..” Batin gua. Gua pun pribadi memanfaatkan dengan memegang tangannya. Teh Lilis membeku. Gua berdebar tak karuan.

“Yang penting, cabut dulu aja Teh dari sini..” Kata gua kemudian sambil keluar parkiran dan gas pol entah kemana.

Dijalan, gua menimang-nimang tempat tujuan. Teh Lilis gak banyak bicara, cenderung sedikit grogi. Raut wajahnya juga tampak khawatir. Entah khawatir gua apa-apain atau khawatir perbuatan nekatnya ini tertangkap berair Mas Muji.

07:50 WIB

Di depan gerbang hotel, gua berhenti dan memandang Teh Lilis. Satu, dua, tiga detik, Teh Lilis tak kunjung memandang balik. Gua menggoyangkan jari di bulat stir.

Teh Lilis memandang balik. Raut wajahnya bukan sekedar bertanya “Ngapain berhenti didepan hotel?” tapi juga, “..Kalo mau masuk, ya masuk.”

Gua tersenyum lebar. Teh Lilis menghembuskan nafas panjang. Iblis berdendang dijok belakang. Malaikat terbelenggu didalem bagasi.

***

08:00 WIB

“Mas ngapain kita kesini?” Tanya Teh Lilis ketika sudah duduk dibibir kasur hotel.

“Ngapain ya Teh enaknya? Hehe. Ngobrol aja Teh..” Jawab gua sambil merebahkan tubuh dikasur. Teh Lilis membelakangi gua.

“Kan, kalo ngobrol disini gak bakal ada yang liat Teh..”

Teh Lilis sesekali menengok kebelakang, melihat posisi pewe gua. “Sini, Teh, nontonnya sambil rebahan. Kaya waktu saya pertama ngeliat Teteh, kan lagi nonton tv sambil tiduran gini..” Goda gua.

Teh Lilis kembali menengok dan tertawa malu. “Saya duduk, sih waktu itu. Gak tiduran. Dibilangin bapaknya Ria, mau ada yang numpang kamar mandi.”

Didalam kamar, hampir selama setengah jam, hanya gua habiskan dengan ngobrol gak jelas. Sama-sama malu. Sama-sama grogi. Tapi lambat laun, Teh Lilis mulai santai dan berkeliling kamar hotel.

Duduk dimeja rias. Ke kamar mandi. Buka-buka kulkas dan baca majalah. Sesekali mendekat ke arah gua untuk bertanya sesuatu yang ada dikamar hotel. Gua pun justru larut dengan menyia-nyiakan waktu yang ada sambil glesoran dikasur.

Madep kanan, madep kiri, tungkerep, telentang. Glesoran gak karuan.

Sampai hasilnya gua bertanya sesuatu, “Eh, Teh. Kok umurnya sanggup beda jauh sih sama Mas Muji?”

Teh Lilis yang sedang duduk didepan meja rias sambil baca majalah kemudian berdiri. Mukanya seketika kesal. “Saya mau balik ke sekolahan, Mas..” Katanya.

Doh, ngambek!

Teh Lilis kemudian berjalan menuju pintu, gua pribadi beranjak dari kasur dan menahannya.

Kemudian gua minta maaf kalo ada sesuatu yang menyinggung. Teh Lilis tak bergeming. Gua sedikit menarik tangannya. Yang terjadi kemudian sungguh diluar perkiraan.

Gua hanya menarik tangannya pelan untuk menerima perhatiannya yang sebelumnya enggan memandang gua. Tapi reaksi Teh Lilis ibarat gres saja di uppercut Muhammad Ali.

Dia merobohkan badannya yang secara otomatis menimpa tubuh gua yang kemudian terjatuh dikasur.

Sesaat kami saling pandang. Kedua tangan Teh Lilis berada didada gua, sedikit menopang tubuhnya.

Gua kemudian melingkarkan tangan gua dibadannya. Teh Lilis tak bereaksi. Masih memandangi gua. Gua salah tingkah. Muka Teh Lilis sedikit berkembang menjadi sangat serius. Sesekali ia memejam.

Kemudian gua meraih kedua tangannya. Badan Teh Lilis sepenuhnya menindih tubuh gua. Payudaranya yang montok mendarat tepat didada gua. Muka Teh Lilis makin berubah ketika gua menggoyangkan badannya. Bibirnya bergerak-gerak ibarat ingin melumat atau berkata sesuatu.

Gua melepaskan jaket blazzernya. Ariel sudah tegangan tinggi. Kaki Teh Lilis lurus diatas gua.

Gua kemudian meremas bokongnya semoga kakinya terbuka. Dan, yap, Teh Lilis mengangkang diatas gua dengan wajah horny.

Ariel yang sudah tegangan tinggi terasa bersentuh dengan bab vagina Teh Lilis. Gua menggoyangkan pinggul naik-turun sambil meremas bokongnya. Sebentar saja, Teh Lilis sudah mengikuti irama goyangan.

“Sssstttt..” Desisnya sambil memejamkan mata. Giginya ibarat sedang menggigit sesuatu. Gua makin kencang meremas bokongnya.

Tiap gua remas dan bergoyang, Teh Lilis berdesis sambil mengatur nafas. “Sssssttt..”

Tangan gua masuk ke dalam celana piamanya. Praktis saja buat gua alasannya yaitu hanya berbahan kolor. Setelah didalam celana, tangan gua gak meremas bokongnya, tapi pribadi menyentuh vaginanya dari atas.

Teh Lilis pribadi mencengkram wajah dan melumat bibir gua. “Eemmm…” Desah gua.

Sambil berciuman, saling melahap satu sama lain, gua menarik-narik kancut Teh Lilis. Teh Lilis bergeliat sambil menggoyangkan sendiri pinggulnya. “Sssssttt…hhuuu..” Desahnya kali ini.

Gua kemudian mulai meremas payudaranya. Teh Lilis memberi ruang dengan sedikit mengangkat tubuhnya yang berada diatas gua. Sebentar saja, gua pribadi membuka tali branya dan mengangkat daster serta branya.

Payudara montok Teh Lilis menggantung diatas wajah gua. Dia menahan tubuhnya dengan kedua tangan dikasur. Setelah menikmati aroma tubuhnya, gua mulai mengulum puting payudara Teh Lilis.

Dari payudara yang satu, ke yang lain. Secara adil gua kulum dan remas payudaranya. Teh Lilis menggoyangkan badannya ketika gua sedang melahap salah satu payudaranya.

08:40 WIB

Sambil menjilati putingnya, gua kembali meremas bokongnya.

Teh Lilis makin menikmati kebejatannya. Dia membuka celananya pake satu tangan dengan gerakan yang dinamis, tanpa mengganggu gua yang sedang melahap payudaranya. “Ssssttt.. Aahh..” Desahnya.

Gua kemudian membalikkan badan. Teh Lilis telentang sambil bergeliat ketika gua melepas celana. “Dasternya, buka Teh..” Kata gua ketika hendak menjilati vaginanya yang masih tertutup. Teh Lilis membuka dasternya dan tapi kemudian menarik wajah gua dan menunjukkan ciuman dahsyat. Dia mencium sambil menyedot.

Gua memasukkan tangan ke dalam kancutnya dan menyentuh vaginanya. Teh Lilis makin melumat bibir gua. Lalu gua memaikan jari dimulut vaginanya. Basah!

Vagina Teh Lilis sudah berair ketika gua melepaskan kancutnya, dan ketika hendak menjilati, lagi-lagi ia menarik kepala gua. Gua pun hasilnya hanya mengocok vaginanya dengan jari sambil menjilati payudaranya. “Aaaahhhh.. Sssttt.. Aaaauuggghh..” Desahnya.

Kemudian gua memasukkan satu lagi jari ke dalam vaginanya. Teh Lilis mengerang sambil mencengkaram leher gua. Gua melepaskan cengkramannya sambil mempercepat gerakan jari mengocok vaginanya.

Baca Juga - Menjadi Pemgantin Muridku

Untuk mendapatkan hasil maksimal, gua menegakkan dudukan badan. Yang tadinya sedikit membungkuk mengulum payudara, menjadi duduk tegap disamping tubuh Teh Lilis yang bergeliat keenakan.

Pemandangan dari sini yaitu yang terbaik ketika sesi porplei, bro.. Haha. You, know lha.

Teh Lilis tak sanggup menyembunyikan raut wajah malu bercampur nafsu ketika gua sengaja mengocok vagina sambil memperhatikannya. “Enak, Teh..” Kata gua.

Entah pertanyaan ndeso macam apa itu. Sialnya, itu pertanyaan yang sering diajukan lelaki ketika sedang menunjukkan nikmat ke perempuan yang sesang dieksekusi.

Teh Lilis menutupi wajahnya dengan bantal ketika tak kuasa mendesah. Dia mendesah dibalik bantal. Gua pribadi menyingkirkan bantal. Wajah Teh Lilis tampak sudah tak perduli. Dia benar-benar menikmati gerakan jari-jari gua.

“Aaahhh, aaakkhhh, hhhaaaahhh..” Desahnya sambil meremas salah satu payudaranya. Payudara yang lain, gua bantu meremas.

Sesaat gua bertanya-tanya. “Ini orang udah punya anak kok pentilnya masih bagus?” Sambil memilin dan meremas buah dadanya.

Sesekali gua kembali melumat pentil dan payudaranya. “Aaaakkkhhh…” Desahnya, panjang. Kemudian gua makin cepat mengocok vaginanya. Teh Lilis coba merangkul leher gua, tapi tak sanggup alasannya yaitu gua menghindar. Ia kemudian mencengkram sprei kasur dengan kedua tangan yang berada diatas kepalanya. Melihat pemandangan ibarat itu, gua makin semangat mengocok.

Akhirnya Teh Lilis memuncratkan cairan dari vaginanya. Badannya bergeliat tak karuan. Ia menahan gerakannya sambil mengatur nafas.

09:05 WIB

Teh Lilis terkujur lemas dengan tubuh sedikit miring. Kedua kakinya menutup vaginanya.

Gua kemudian mengeluarkan Ariel dan mendekatkan ke wajahnya. Gua ‘memukul-mukul’ wajah Teh Lilis dengan pentungan hansip itu. Lalu mulai menggerayangi mulutnya. Teh Lilis urung membuka mulut, ia tampak sedang masih mengumpulkan tenaga.

Gua terus berusaha sambil kembali meremas payudaranya. Lalu membuka kakinya yang menutupi vagina. Teh Lilis kembali terlentang dengan posisi sedikit mengangkang. Gua menunjukkan sentuhan-sentuhan ringan ke sekujur badannya.

Kemudian sesudah menjilati payudaranya, gua menciumi bab pahanya. Posisi gua masih dengan Ariel yang berada di wajah Teh Lilis. Gua kemudian merebahkan tubuh disamping dengan posisi terbalik. 69!

Dengan posisi menyamping, gua mulai melumat vagina Teh Lilis. Dia pribadi meremas Ariel. Lalu gua mengangkat badannya menindih tubuh gua dalam posisi tepat 69.

Gua menjilati vagina Teh Lilis yang terasa asin. Teh Lilis urung melahap Ariel hingga gua memasukkan satu jari kedalam vaginanya. “Oouugghh..” Desahnya, kemudian melahap Ariel.

Ariel terasa hangat dan basah.

Bokong Teh Lilis bergerak-gerak diatas wajah gua. Vaginanya tepat berada dimulut gua. Sementara Ariel keluar masuk mulutnya.

Teh Lilis makin menikmati tugasnya. Sesekali ia menyedot Ariel dalam-dalam, kemudian menjilati dan mengulum bola dragonbol. “Ahhh, lezat teh..” Kata gua. Kali ini bukan pertanyaan, ini pernyataan.

Teh Lilis tiba-tiba menegakkan badannya.

Sambil mengocok Ariel, ia merangkak naik dan mengurung Ariel kedalam vaginanya. Jleb!

“Aahh, Fak!” Respon gua, tak menyangka ia pribadi ke topik utama.

Teh Lilis membelakangi gua dengan kedua tangan memegang sandaran punggung kasur. Ariel terlihat timbul tenggelam dari bokong Teh Lilis yang gua liat dari belakang.

Gua memegang bokong Teh Lilis, membantunya bergerak naik-turun, maju-mundur. “Sssssstttt, mmaaasss… Aaahhhh” Desah desis Teh Lilis yang makin cepat menggenjot.

Lalu gua berdiri dari tidur dan memeluk Teh Lilis dari belakang. Sambil meremas payudaranya, gua menciumi punggungnya.

Teh Lilis makin beringas, ia merangkul gua dengan posisi membelakangi. Nikmat sekali. Lalu Teh Lilis meminta berciuman, dengan bahagia hati gua melayaninya. Kedua tangan Teh Lilis yang setengah merangkul leher gua, menciptakan ketiaknya tampak menggairahkan. Sesekali gua menunjukkan kecupan ke ketiaknya.

Meski tidak harum, tapi juga tidak bau. Yang penting, tidak ada bulunya!

09:18 WIB

Badan Teh Lilis yang montok tak sanggup gua tahan lebih usang berada diatas paha gua.

Gua lalu* memintanya berdiri, dan mengambil posisi doggy tanpa melepas Ariel yang betah didalam vagina Teh Lilis.

Teh Lilis berdiri dengan lututnya, masih dengan posisi membelakangi gua.

Gua sedikit membungkukkan punggungnya, sambil meremas payudara. Teh Lilis bergeliat ketika lehernya gua kecup-kecup.

“Keluarin didalem, Teh?” Tanya gua ketika bergerak lambat menikmati ciuman.

“Jangan dikeluarin dulu..” Bisiknya, manja.

Gua kemudian menghadapkan wajahnya kearah jam dinding sambil melumat bibirnya.

Dia yang paham maksud gua kemudian mendorong bokong gua semoga masuk lebih dalam. Gua kemudian berakselerasi tingkat tinggi.

“Plak! Plak! Plak!” Suara yang keluar, diikuti desahan Teh Lilis, “Aaakkhhh, aaaaakkhh, Maasss.. Sssttt..”

Tak butuh usang dari serangan terakhir, Ariel memuntahkan ludah naga didalam vagina Teh Lilis.



“Oouugghhh…” Desah gua, panjang.

Teh Lilis pribadi membenamkan wajahnya dikasur dengan posisi nungguing. Tampak sperma gua secara perlahan keluar dari dalam vagina Teh Lilis. “Sssstttt.. Hhhaaaahhh..” Desisnya.

Setelah tampaknya sperma sudah banyak yang keluar, Teh Lilis merobohkan badannya, tidur tungkerep.

Lalu bersuara pelan, “Ria udah saya titipin sama temen. Nanti pribadi saya jemput dirumahnya..”

Cie “Aku”


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Baca Kumpulan Dongeng Seks 2019 Istri Kakak Tukang Bakso"

Posting Komentar