Para Bidadari Dari Nirwana Part 1

Para Bidadari Dari Surga Part 1
Para Bidadari Dari Surga Part 1 - Sangat sulit tentunya bisa berkumpul bersama bagi mereka yang kini sudah mempunyai kesibukan masing-masing, apa lagi sebagian dari mereka kini sudah menikah dan mempunyai anak, tapi walaupun sudah berkeluarga, mereka tetap saling menyayangi dan sangat perduli dengan satu sama lainnya. Dan hari ini mereka berkumpul bersama membahas ijab kabul Adik bungsu mereka yang berencana ingin segera melepas masa lajangnya.

Dan untuk membahas problem tersebut mereka tetapkan untuk berkumpul di rumah Ema Salima Salsabilla, alasannya diantara mereka berlima Ema anak paling tua, sehingga tidak heran kalau mereka menganggap Ema ibarat orang renta mereka sendiri sehabis kedua orang renta mereka meninggal dunia.

“Kamu serius mau menikah?” Tanya Ema sehabis mereka gres saja selesai menyantap makan malam bersama, dan kini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.

“Iya saya serius Mbak, saya pikir sudah saatnya saya melepas masa lajangku.” Jelas Ana sembari tersenyum yakin dengan keputusannya.

“Menikah itu tidak muda. Tanggung jawab kau sebagai seorang perempuan akan bertambah?” Ujar Elvi sambil mengambil keripik singkong kesukaannya yang ada di atas meja.

“Benar apa yang dikatakan Mbak Elvi Ana, apa lagi calon Suami kau kerjanya ketika ini gak jelas, saya takut nanti kau bernasib sama denganku.” Ina mengingatkan saudaranya wacana bagaimana nasibnya ketika ini.

Ina yang usianya hanya terpaut satu tahun dari adiknya, memang sudah menikah dua tahun yang lalu, tapi kehidupan rumah tangganya tidak begitu harmonis, alasannya Suaminya hanyalah seorang pengangguran, membuatnya kini menjadi tulang punggung keluarga.

“Husst… kau gak boleh ngomong ibarat itu.” Sergah Emi kepada Adiknya.

“Ingat dulu kau yang menentukan Hasan untuk menjadi Suami kamu, bukannya dulu Mbak sudah ingatkan kamu!” Ujar Ema menasehati Adiknya, yang di nasehati hanya membisu saja.

“Seharusnya kau bersyukur sudah meiliki pendamping hidup yang menyayangi kamu, dan selama ini Mbak lihat Suami kau sudah berkerja keras mencari pekerjaan, ia bukan orang yang pemalas hanya duduk membisu di rumah.” Timpal Emi, sambil mendesah lirih.

“Sudah… sudah… ketika ini kita sedang membahas ijab kabul Ana!” Lerai Elvi.

Kemudian mereka kembali sibuk membahas ijab kabul Anna, dan di lanjut dengan mengobrol ringan bercanda gurai. Rasanya sudah usang mereka tidak ibarat ketika ini, bisa saling menasehati, memberi masukan dan bercanda santai sambil tertawa ringan.

Tak terasa waktu terus berputar, hingga akibatnya satu persatu dari mereka pulang kerumah masing-masing, kecuali Anna yang masih tinggal di kamar kossan.


###

Satu…

Ema Salima Salsabila

Seperti biasanya, saya berdiri lebih awal. Menyiapkan semua keperluan Suami dan anak gadisku. Di mulai dari memasak yang di bantu oleh Inem, selesai memasak, saya segera kembali kekamarku, membangunkan Suamiku yang masih terlelap.

Perlahan saya duduk di tepian tempat tidur, cukup usang saya memandangi wajah Suamiku.

Tidak terasa sudah tujuh belas tahun lebih kami menikah, hingga kami melahirkan seorang Putri yang begitu cantik, dan membanggakan.

“Bangun Mas!” Panggilku lirih…

Tubuh Mas Tio menggeliat, dengan perlahan ia membuka matanya dan kemudian tersenyum kearahku. “Jam berapa sekarang?” Tanyanya dengan bunyi yang serak.

“Sudah jam lima, ayo bangun!” Pintaku.

Tapi tiba-tiba Mas Tio memeluk pinggangku menjatuhkanku diatas tempat tidur kami. Lalu ia mulai menyerangku, mencium sekujur wajahku, dan terakhir ia memanggut bibirku lembut penuh kasih sayang.

“Mas… nanti anak kita Asifa kesiangan loh!” Kataku mengingatkannya.

Dia membelai wajahku. “Ini hanya sebentar kok sayang, boleh ya…” Bujuknya, tapi tanpa menunggu balasan dariku ia melucuti celana piyamaku berikut dengan celana dalam yang saya kenakan.

Kalau sudah begini saya hanya pasrah membiarkan dirinya merampungkan birahinya. Bukankah ini sudah menjadi tugasku sebagai seorang Istri yang wajib melayani Suaminya. Dalam kondisi apapun saya dihentikan menolaknya, alasannya surgaku ada di rhidonya.

Dengan perlahan kurasakan penis Suamiku yang menyeruak masuk kedalam vaginaku yang masih kering. “Aaahkk…” Aku merintih pelan.

Dengan ritme pelan Suamiku mulai menggerakan pinggulnya maju mundur, hingga akibatnya akupun mulai terangsang dan menikmati setiap ukiran yang terjadi antara kelamin kami berdua.

“Kamu sangat anggun sekali, walaupun sudah tidak muda lagi, tapi wajah dan bentuk tubuhmu sama ibarat anak dewasa pada umumnya.” Aku tersipu malu mendengar pujiannya terhadapku.

“Aahk… Mas bisa aja! ”

“Mas tidak berbohong sayang, dan… Aahkk…” Tubuh Suamiku bergetar dan kemudian kurasakan lelehan hangat masuk kedalam rahimku.

Tubuhnya ambruk kesamping tubuhku dengan nafas yang memburu. Dia menatapku sebagai ungkapan terimakasih, dan saya menjawabnya dengan tersenyum semanis mungkin.

Segera saya mengenakan kembali celanaku, membiarkan Suamiku beristirahat sejenak sementara saya membangunkan anak semata wayangku yang tentunya ketika ini masih tertidur lelap. Setelah membangunkan mereka berdua, saya kembali di sibukan menyiapkan sarapan mereka berdua.

Tugasku gres berakhir ketika mereka berdua meninggalkan rumah dan sibuk dengan acara mereka masing-masing.

Selesai mandi, saya berencana untuk bersantai sejenak di depan tv, tapi siapa yang menyangkah saya malah ketiduran di depan tv. Bangun-bangun tubuhku terasa begitu sakit, tampaknya saya sangat kelelahan apa lagi tubuhku sudah usang tidak di pijit.

Lebih baik saya meminta Inem memijittiku sebentar, siapa tau habis itu tubuhku tidak pegel lagi.

Aku berjalan santai menuju kamar Inem yang berada di bersahabat dapur, setibanya saya hendak mengetuk kamar Inem, tapi tiba-tiba langkahku terhenti ketika mendengar bunyi yang abnormal dari dalam kamar Inem, bunyi desahan yang sangat familiar di telingaku

Tanpa mengetuk pintu lagi saya membuka kamar Inem dan benar saja. “Astafirullah… kalian ngapain?” Aku memekik kaget ketika melihat Inem sedang berada diatas selangkangan Pak Rusman, sementara di belakangnya ada Pak Darto.

“I…ibu!” Panik Inem.

Tapi kedua laki-laki pembantuku itu seolah tak perduli dengan kehadiranku, mereka masi saja menyetubuhi Inem pembantuku, membuatku murka dan sangat geram dengan kelakuan mereka yang kurang ajar.

Aku bertekad akan melaporkan perbuatan zina mereka, kepada Suamiku, dan memecat mereka semua.

Aku hendak meninggalkan kamar Inem, tapi tiba-tiba seseorang memeluk pinggangku dan kemudian menarikku masuk kedalam, belum sadar akan ancaman yang menimpaku, tiba-tiba Ujang menutup pintu kamar Inem dan menguncinya dari dalam.

“Mau apa kau Jang?” Aku membentaknya marah.

Ujang hanya tersenyum dan kemudian ia melucuti pakaiannya hingga telanjang bulat. “Ya Tuhaan…” Aku meringis ketakuttan.

###

Emi Sulia Salvina

“Assalamualaikum!”

Aku masih berada di dapur ketika mendengar salam dari putra semata wayangku. Aku segera menuju pintu rumah utama, kulihat putraku sedang menangis, pakaiannya berantakan, dan wajahnya terlihat memar, bahkan bibirnya sedikit berdarah.

“Astafirullah!” Ucapku kaget, kemudian saya memeluk anakku, dan mengajak masuk kedalam rumah.

Aku segera mengambil obat di dalam kotak p3k milikku, kemudian kembali menemani putraku, kusuruh ia untuk tidur diatas pangkuanku, kemudian dengan perlahan saya mengobati luka di wajahnya.

Ya Tuhan… siapa yang begitu tega memukul anakku, ini sudah kesekian kalinya saya melihat Toni pulang dalam keadaan terluka.

Kali ini saya harus berhasil memaksa Toni untuk menceritakan apa yang bahwasanya terjadi terhadap dirinya. Dan saya harus tau siapa yang telah berani memukul anakku, hingga ia babak belur ibarat ini.

“Masi sakit Ton?” Tanyaku sehabis mengobati luka di wajahnya.

“Iya Bun, rasanya sakit banget!”

“Cerita sama Bunda, siapa yang sudah berani mukulin kamu, biar nanti Bunda yang menghukum mereka.” Jelasku, sambil mengusap lembut pipi anakku yang mewar akhir pukulan.

Toni tertenduk, ia tak berani menatap mataku. “Gak ada Bunda.” Jawabnya, terang kalau ia sedang berbohong, luka ini mustahil ada kalau ia tidak di pukuli.

“Bilang sama Bunda, siapa yang sudah memukul kamu? kau niscaya tidak mau di pukulin lagi kan?” Tanyaku pelan dengan nada lirih.

Toni mengangkat wajahnya dan kemudian tersenyum, tapi ia tetap.diam tidak mau memberi tauku, siapa yang telah berani memukulinya. Aku mendesah pelan kemudian kembali saya memeluknya dengan sangat erat.

Tak usang kemudian seorang perjaka menghampiriku yang sedang memeluk putraku.

“Baru pulang Wan?”

“Iya Bun, ia kenapa lagi Bun, kok mukanya bonyok gitu?” Tanya Irwan, melihat kearah wajah Toni yang lebam alasannya di pukulin.

Kulihat ia tampak begitu khawatir, ia segera menarik bahu anakku, dan melihat wajah anakku dari dekat. Kulihat Irwan tampak kesal sehabis melihat wajah Toni yang berantakan.

Tidak heran kalau Irwan tampak murka melihat wajah Toni yang terluka, mengingat Irwan ialah keponakan dari Suamiku, secara tidak pribadi ia ialah Kakak dari anakku.

“Siapa yang mukulin Adek Bun?”

“Toni belum mau cerita! Ya sudah kau istirahat dulu ya sayang, Bunda mau masak dulu, kau juga ya Wan!” Kataku kepada mereka berdua.

“Iya Bun.” Jawab Toni, kemudian ia beralu kekamarnya.

“Aku mau nemanin Bunda masak, bolehkan Bun?” Tanya Irwan, saya tersenyum, ia memang anak yang baik, selalu mau membantuku, meringangkan pekerjaanku.

Semenjak tinggal di rumah kami, Irwan memang sudah terbiasa memanggilku dengan panggilan Bunda, sama ibarat putraku memanggilku.

“Yakin?”

“Sangat yakin, kapan lagi bisa bantuin Bunda yang cantik!” Jawab Irwan, saya hanya tertawa renyah mendengar gombolannya.

######

Elvina

Aku gres saja tiba di rumah sekitar jam lima sore, gres saja saya memarkir kendaraan beroda empat honda jazz milikku, tiba-tiba seorang perempuan gampang mengenakan mini dress berwarna merah keluar dari dalam rumah. Dia sempat melihatku kemudian tersenyum meninggalkan rumah.

Aku mendengus kesal, ini niscaya ulah mertuaku yang lagi-lagi menyewa psk.

Aku tau ia seorang duda, tapi menyewa psk dan membawanya kerumahku tentu ini sudah sangat keterlaluan, apa lagi ini bukan kali pertama saya melihat ia membawa masuk psk kedalam rumahku, tapi ini sudah untuk kesekian kalinya.

Bahkan perna suatu hari, ketika saya pulang lebih awal dari kantor tempatku bekerja, saya memergoki Bapak Mertuaku sedang bercumbu mesrah dengan seorang psk di dalam kamarku.

Tentu saja saya murka dan mengusirnya keluar, tapi sehabis itu saya tidak perna mengungkitnya lagi, bahkan saya tidak mengadu ke Suamiku, saya menentukan membisu dan berharap suatu hari nanti Mertuaku mau bertaubat.

“Astafirullah!” Aku beristifar pelan.

Aku dihentikan emosi ibarat ini, setiap problem niscaya akan ada jalan keluarnya.

Segera saya masuk kedalam rumahku, kulihat Mertuaku sedang duduk sambil menonton tv. Seeperti biasanya, walaupun saya merasa kesal dengan tingkahnya, saya tetap berlaku sopan kepadanya.

“Pak!” Sapaku, kemudian mengamit tangannya dan mencium tangannya.

“Baru pulang Vi?” Tanyanya.

Aku mengangguk sembari tersenyum.

“Maaf Pak cewek tadi yang gres keluar siapa ya?” Tanyaku dengan sopan, ia melihatku sejenak, kemudian kembali mengarahkan matanya kelayar tv.

“Dia sobat Bapak, tadi cuman mampir!”

Sebenarnya saya ingin sekali murka kepadanya, menegurnya dengan keras, tapi saya takut hubunganku dengannya akan menjadi buruk, tentu saja problem ini akan berimbas terhadap Suamiku. Aku tidak ingin menciptakan Suamiku khawatir.

Aku lebih menentukan diam, dan segera masuk kedalam kamarku yang sunyi, alasannya tiga hari ini Suamiku sedang berada di luar kota.

Segera saya membuka pakaianku hingga telanjang bulat, kemudian kuambil handukku, dan berjalan santai menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar mandi. Kugantungkan handukku di belakang pintu, kemudian sambil bernyanyi riang saya membiarkan air shower membasuh tubuhku.

Kuambil sabun cair, dan kutumpahkan sabun itu di kedua tanganku, kemudian dengan perlahan kedua tanganku yang penuhi sabun, mulai bergerilya di tubuhku, membelai perutku yang ramping terus naik hingga keatas payudarahku. “Aahkk…!” Aku merintih pelan ketika jari nakalku menyentuh puttingku.

Lagi-lagi saya ibarat ini, padahal gres tiga hari Suamiku pergi, tapi saya sudah sangat merasa kesepian.

“Aahkk… Mas, saya merindukanmu!” Bisikku lirih.

Kedua tanganku semakin intens merangsang payudarahku, meremasnya dengan perlahan, memilin puttingku, menciptakan wajahku mengada keatas sanking nikmatnya.

Perlahan tangan kananku turun kebawah, kemudian kuselipkan jari tengahku kedalam bibir vaginaku yang semakin berair alasannya lendir precum yang keluar dari vaginaku seakan tak mau berhenti. “Ohk!” Kembali saya merintih, membayangkan Suamiku yang ketika ini sedang menyetubuhiku ibarat biasanya.

Semakin usang jariku bergerak semakin cepat, hingga akibatnya saya tidak tahan lagi, dan… “Aaaahkk..” Aku memekik cukup keras seiring dengan orgasme yang telah saya dapatkan.

Astaga… lagi-lagi saya bermasturbasi, lama-lama saya tidak berpengaruh kalau harus begini terus.

Mas cepatlah pulang….

###

“Sudah mau pergi sayang!” Sapa Suamiku yang gres saja meletakan segelas susu hangat di atas meja. “Susunya di minum dulu bidadari surgaku.” Dia tersenyum ibarat biasanya, menyapaku dengan panggilan sayang.

“Terimakasi Mas!”

“Anton belum jemput kau sayang, ini sudah jam tujuh lewat, apa perlu Mas yang antrrin kamu?”

“Bentar lagi Mas Anton juga dateng!”

“Nanti kau telat loh.”

“Gaklah Mas, biasanya juga nanti Mas Aton niscaya jemput saya kok, gak mungkin ia pribadi kekantor!”

“Ya sudah terserah kau aja!”

Dan lima menit kemudian terdengar bunyi deruh mesin di depan rumahku. Aku dan Suamiku segera keluar rumah, kulihat Mas Anton keluar dari dalam mobilnya, ia tersenyum kemudian menyapa kami.

“Assalamualaikum!” Sapanya.

“Waalaikumsalam.” Jawabku, “Kok datangnya telat Mas, kita hampir terlambat ni!” Kataku sedikit merajuk, dan ibarat biasanya Mas Anton hanya tertawa menanggapi rajukanku, bahkan ibarat tidak perduli.

Oh ya, namaku Inaya Septa Renata, usiaku ketika ini 26 tahun, dan alhamdulillah sudah satu tahun ini saya di angkat menjadi Pegawai Negri Sipil, berkat santunan dari Mas Anton. Aku merasa sangat berhutang budi terhadap Mas Anton yang telah begitu banyak membantu berkorban untuk keluarga kecilku.

Mas Aton sendiri ialah sahabat baik dari Suamiku Mas Hasan, mereka saling mengenal sejak mereka duduk di kursi kuliah.

Hubunganku dengan Mas Anton sekian hari makin dekat, alasannya setiap hari kami selalu pergi pulang kerja bareng, alasannya kebetulan kami satu kantor, sanking dekatnya relasi kami saya sudah menganggap Mas Anton ibarat Kakakku sendiri, ia tempatku berkeluh kesah di kalah bahagia maupun sedih.

“Mas Hasan, saya pergi dulu ya!” Pamitku, kemudian mencium tangannya.

“Hati-hati di jalan, Mas Anton, saya titip Istriku ya.” Kata Suamiku, Mas Anton hanya mengangkat tangannya bertanda kalau ia bersedia menjagaku.

Segera kami masuk kedalam mobilnya, dengan perlahan kendaraan beroda empat Mas Anton berjalan meninggalkan Suamiku yang ibarat biasanya selalu melambaikan tangannya hingga kendaraan beroda empat kami menghilang dari pandangannya.

Selama di perjalanan menuju kantor, ibarat biasanya kami selalu bercanda gurau.

“Tapi serius loh Dek, kau hari ini beda banget!” Dasar Mas Anton memang paling suka menggodaku, membuatku terkadang malu sendiri.

“Uda dong Mas neggombalnya.”

“Serius loh Dek, kau terlihat lebih seksi dari biasanya! Mas aja tadi sempat pangling waktu melihat kau barusan, Mas pikir tadi siapa.” Dia menoleh sebentar kearahku, kemudian tangannya mengamit tanganku.


Tanpa sadar saya meremas tangannya yang sedang menggenggam tanganku.

Entah kenapa akhir-akhir ini setiap kali berdekatan dengannya, jantungku selalu berdetak lebih cepat, selain itu tak jarang saya suka salah tingkah setiap kali ia menggombal, rasanya sangat berbeda ketika Suamiku yang menggombal.

Seperti hari ini ia terus-terusan memujiku, alasannya saya menuruti sarannya untuk memperkecil ukuran pakaian dinasku, sehingga saya terlihat begitu seksi katanya.

Kalau seandainya saja yang memujiku ini bukan Mas Anton, mungkin saya akan sangat marah, tapi alasannya yang memujiku ini ialah Mas Anton, rasanya saya tidak bisa marah, malahan saya merasa besar hati mendapat kebanggaan dari dirinya walaupun kebanggaan itu terdengar vulgar.

“Emang seksinya dari mana sih Mas?”

Dia kembali tertawa renyah. “Lihat payudarahmu Dek, terligat lebih menantang dari sebelumnya, apa lagi pantat kau Dek, Uh… rasanya Mas gak sabar pengen melihatnya lagi.” Gombalnya senang, membuatku semakin gemes oleh tingkahnya.

“Mas nakal, nantik saya aduhin sama Mas Hasan.” Kataku sembari mencubit perutnya.

“Auw, sakit Dek! Nanti seksinya hilang loh!”

“Biarin.” Kataku merajuk.

Dan alhasil Mas Anton selama sisa perjalanan kami ia terus membujukku semoga saya tidak cemberut, tapi saya akal-akalan tidak memperdulikannya.

###

Ema Salima Salsabila

Dengan sekuat tenaga saya hendak melepaskan diri, tapi Ujang dengan erat memelukku, ia memaksaku melihat adegan panas antara Mbak Inem dengan Pak Darto dan Pak Rusman, membuatku merasa sangat jijik dengan mereka semua. Bagaimana mungkin mereka memperlakukanku ibarat ini sebagai majikan mereka, yang seharusnya sangat mereka hormati.

Mereka benar-benar tidak tau diri, selama saya dan Suamiku memperlakukan mereka layaknya ibarat keluarga, tapi apa yang mereka perbuat ketika ini sungguh sangat keterlaluan.

Ujang memaksaku duduk di pangkuannya, sementara ia duduk di kursi.

Sambil menonton adegan live show yang ada di hadapanku, Ujang dengan beraninya menggerayangi tubuhku, ia mencium tengkukku yang masih tertutup kerudung, sementara kedua tangannya mencengkram erat payudarahku. Ya… Tuhaan, Aahkk… remasan Ujang dan pemandangan yang ada di hadapanku ketika ini, sedikit banyak membuatku terangsang.

Kulihat penis Pak Rusman keluar masuk dengan perlahan di dalam vagina Inem, sementara penis Pak Darto dengan gerakan cepat menyodomi Inem dari belakang.

Untuk pertama kalinya di dalam hidupku melihat pemandangan erotis ibarat ini, dan parahnya lagi, adegan terlarang itu di lakukan oleh pembantuku sendiri. “Astafirullah!” Aku mengucap dalam hati.

“Paak… Ooohkk… Ineeem mau keluaaar lagi!” Erang Inem, kulihat badan bugil Inem tersentak-sentak selama beberapa detik, dan kemudian tubuhnya melemas, jatuh kedalam pelukan Pak Rusman. Tapi mereka berdua bukannya berhenti malah semakin beringas menyetubuhi Inem, bahkan kulihat Pak Darto memukul pantat Inem cukup keras.

Tidak… kenapa saya ibarat ini? Oh… Tuhan, Aku mustahil terangsang… tapi ini…. Aaahk…!

Kusandarkan kepalaku di bahu Ujang sambil merontah kecil kepadanya, sementara Ujang semakin keras meremas payudarahku, bahkan sambil menciumi pipiku, ajun Ujang beralih kebawah menuju keselangkanhanku, saya sanggup mencicipi jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu penisanya ibarat menyundul pantatku.

“Kayaknya Ibu sudah terangsang ya?” Ia menggodaku, berbisik di telingaku.

Aku menggeleng lemah. “Tidaaak… Aahkk… Lepaskan saya Mas Ujang! Aaahhkk…. Ooghk…. Cukup, jangan lecehkan saya lagi Mas, ini dosa besar Mas!” Aku memohon tapi tak benar-benar berusaha menghentikan perbuatan cabul yang di lakukannya.

“Coba Ibu lihat Inem? Ibu maukan ibarat Inem, kita akan bikin Ibu ketagihan dengan kontol kami, setiap hari Ibu akan kami perkosa sama ibarat Inem!”

“Perkosa?” Kataku panik. “Jangan Mas Ujang! Saya mohoon, saya kesepakatan tidak memecat ataupun melaporkan perbuatan kalian tapi tolong Mas, jangan ibarat ini, lepaskan saya Mas, saya sudah bersuami!” Aku memohon kepada mereka.

“Yakin mau di lepaskan?”

“Khaaaayaaakkkiiiin…” Aku memekik ketika Ujang meremas kasar dadaku.

Tapi tak usang kemudian tiba-tiba Ujang memanggut bibirku, meredam suaraku dengan melumat bibir merahku, menghisapnya dengan perlahan membuatku kaget sekaligus semakin terbawa suasana erotis.

Oh Tuhan… ia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, saya tidak perna mencicipi ini sebelumnya, Suamiku tak perna melakukannya seenak ini, tapi dia… Aahkk… ia hanya pembantuku, tapi ia bisa membuatku merasa nyaman ibarat ini, dan lagi….

“Cukup…” Aku tersadar kudorong dadanya.

Astaga… Apa yang kulakukan barusan, hampir saja saya menikmati sentuhannya di bibirku.

“Kalian sudah selesai belom, sisain tenaga buat ronde kedua ni?” Tanya Ujang kepada mereka yang ketika ini sedang berbaring dalam keadaan telanjang bulat, tampaknya mereka gres selesai.

“Udah… hayu kita lanjut.” Kata Pak Darto.

“Serius Mas Ujang mau ngelakuin ini sama Ibu, selama ini Ibu baik sama kita, masak kita malah ngelakuin ini sama Ibu.” Aku bisa sedikit bernafas lega mendengar penuturan Inem, dan berharap mereka mau mendengarkan Inem.

“Tenang aja Nem, kau aja ketagihankan?” Tanya Ujang, kulihat Inem tertunduk malu.

“Nambah satu bidadari nirwana lagi ni.” Girang Pak Rusman.

“Pak Darto, tolong ambilkan tali ya, dan kau Inem, jangan lupa siapin hp kamu.” Perintah Ujang kepada mereka berdua.

“Siap atuh Jang!” Jawab Pak Darto, kemudian ia buru-buru keluar kamar Inem.

Entah kenapa saya yang semakin panik tak membuatku bergeming turun dari atas pangkuannya, bahkan ketika Ujang menggendong dan menjatuhkanku diatas tempat tidurku, saya hanya diam, seakan saya pasrah menanti nasibku selanjutnya di tangan mereka.

Tidak… saya harus lari, mereka bermaksud jelek kepadaku, saya dihentikan tinggal diam, saya harus berontak apapun yang terjadi saya harus keluar.

Dengan sekuat tenaga saya mendorong badan Ujang hingga ia terjengkang kebelakang, kemudian dengan secepat kilat saya hendak melarikan diri tapi sebelum pintu kamar Inem terbuka, Pak Rusman sudah membukanya lebih dulu, sehingga satu-satunya susukan bagiku untuk melarikan diri ketutup oleh Pak Rusman.

“Tolong Pak!” Aku memelas untuk terakhir kalinya.

###

Inayah Sipta Renata

“Dicariin, ternyata kau malah ada di sini!”

“Kangen ya… gres juga di tinggal beberapa menit uda kangen aja Mas!” Kataku menggodanya.

“Gimana gak kangen, kalau dada kau selalu terbayang di benak Mas. Bikin pekerjaan Mas jadi berantakan tau.” Katanya, sambil mengaduk kopi cappucino miliknya.

Aku memasang wajah imutku. “Ya maaf Mas!” Bisikku lirih sambil memanyunkan bibirku.

“Kamu harus tanggung jawab!”

“Hah?” Kataku kaget. “Emang Aku harus gimana Mas, biar Mas gak kepikiran lagi?” Tanyaku, entah kenapa saya mau saja mengikutin kemauannya.

Dia membisu sejenak, kemudian matanya melirik sekeliling kantin, kemudian ia tersenyum.

Entah apa yang sedang ia pikirkan ketika ini, tapi saya merasa Mas Anton ingin kembali mengerjaiku ibarat kemarin-kemarin. Duh… Mas, kau itu kok badung banget si, bikin Adek serba salah.

“Buka dikit dong” Tuhkan bener.

“Apanya Mas?” Tanyaku akal-akalan bingung.

Dia meneguk air liurnya. “Kancing baju kau buka dua ya, Mas pengen lihat kayak kemarin!” Pintanya, membuatku kembali tegang.

“Mas ada-ada aja ni malu tau!”

“Malu kenapa?” Tanyanya.

“Malulah di lihat orang.”

“Ya kan gak ada orang lain, cuman ada kita berdua, terus ngapain juga kau malu, Adekkan cantik, seksi lagi… Seharusnya kau besar hati punya dada sebesar itu.” Dia menunjuk dadaku dengan bibirnya.

Aku membisu sejenak. “Tapi sebentar aja ya Mas.” Dia buru-buru mengangguk.

Dengan perasaan was-was, sambil melirik kekiri dan kekanan saya membuka dua kancing pakaian dinasku, hingga terlihat belahan dadaku dan belahan atas cup bra yang kukenakan.

Gila… kau gila Ina, ingat ini di kantin kantor, gimana kalau ada yang melihat kamu? Aahk… kau sbenar-benar sudah gila.

Tiba-tiba Mas Anton berdiri, kemudian ia mengamit tanganku dan pribadi membawaku pergi, saya yang panik hendak kembali menutup kancing seragamku, tapi Mas Anton buru-buru menghetikanku. Entah mau apa lgi ia sekarang.

“Kamu seksi, saya ingin memamerkan keseksian kau ke semua orang!” Kata enteng mengakakku menuju kantor.

Mas Anton… kau selalu bisa membustku berada dalam kondisi yang sulit ibarat ketika ini, tapi saya menyukaimu caramu Mas.

####

Ema Salima Salsabila

Namaku Ema Salima Salsabila, usiaku ketika ini 39 tahun, memang usiaku sudah tidak muda lagi, tapi mungkin memang intinya keluargaku semuanya cantik-cantik dan baka muda, sehingga walaupun usiaku sudah mendekati kepala empat saya masih terlihat anggun dan bentuk tubuhku rasanya tidak perna berubah sedikitpun dari saya dewasa hingga sekarang, walaupun saya sudah melahirkan seorang Putri.

Tidak heran kalau Suamiku tidak perna merasa bosan menjamah tubuhku.

Tapi di balik kesempurnaan yang kumiliki malah membuatku kini dalam bahaya, mereka para pembantuku berniat memperkosa diriku.

Aku berbaring diatas tempat tidurku, dengan kedua tangan terikat diatas kepalaku, sementara itu mereka bertiga mengelilingiku, dan Inem satu-satunya pembantu perempuan dirumahku sedang memegang kamera hp yang di arahkan kepadaku.

“Jangan tegang Bu, vidio Ibu tidak akan kita sebar, ini hanya sebagai jaminan!” Ujar Ujang sambil membelai kepalaku yang tertutup kerudung.

“Tolong jangan sakiti saya.”

“Mana mungkin kami berani menyakiti Ibu.”

“Bener Bu, yang ada kami malah ingin menciptakan Ibu mencicipi nirwana dunia.” Timpa Pak Darto, kurasakan tangannya membelai betitsku, terus naik hingga melewati lututku dan menuju kepahaku.

Aku yang panik berusaha memberontak, tapi dengan cepat Ujang memanggut bibirku, ia menghisap bibirku dengan perlahan, memaksaku membuka mulutku dan menghisap, membelit bibir dan lidahku. Sementara tangan kanannya kembali hinggap diatas payudaraku.

Oohkk… Tubuhku menggeliat!

Kenapa dengan diriku ini, ciuman Ujang terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. “Aahkk… ” Tangan siapa itu, kumohooon jangan naik lagi, saya sudah tidak tahan lagi, vaginaku… Aahkk… hentikan, cairanku sudah keluar.

Kurasakan tangan seseorang kini sedang membelai paha belahan dalamku, sementara kedua payudarahku ketika ini sedang di remas nikmat di balik gamis yang kukenakan, dan mulutku kini dengan suka rela tanpa perlawanan berarti membalas lumatan Ujang.

Tidak…. Gamisku sudah di singkap keatas, mereka niscaya bisa melihat kedua paha mulusku, dan lagi celana dalamku yang berwarna criem niscaya sudah lecek alasannya precum ini tak mau berhenti keluar.

Satu-persatu kancing gamisku di buka dan kemudian “Breaaat….” Seseorang mengoyak gamisku.

Dengan sangat perlahan seseorang menarik kebawah cup braku, sehingga payudarahku berukuran 34C melompat keluar.

Belum hilang kekagetanku, sekilas saya melihat wajah Pak Rusman mendekati payudarahku, lalu… Oh Tuhan… lidahnya menari-nari di sekitaran payudaraku mengelilingi aurolaku, menciptakan saya semakin tidak tenang, nafasku memburu dan jantungku… Aahkk!

Celana dalamku di tarik… Jangan-jangan saya mohon, siapapun tolong aku, kedua tanganku terikat saya tidak bisa menghentikannya.

Dan… Uuhkk… sapuan apa lagi ini! Aaahkk… Aku tidak tahan lagi….

“Memeknya sudah berair Jang!” Kudengar bunyi Pak Darto mengomentari vaginaku.

Ujang melepaskan ciumannya. “Ingat, jangan sakiti majikan kita, buat seenak mungkin!” Komentar Ujang, ia menatapku sembari tersenyum.

Kenapa dengan diriku ketika ini, saya sedang di perkosa seharusnya saya marah, bukan merasa malu ibarat ini, bahkan rasa malu ini terasa lebih besar ketimbang ketika saya melaksanakan malam pertama dengan Suamiku dulu. Apa ini yang di sebut puber kedua? Tidak mungkin, orang tuaku tidak perna mengajarkanku ibarat ini.

“Jang, gamis sama kutangnya ganggu ni.” Protes Pak Rusman, seakan Ujang yang usianya lebih muda malah dianggap ibarat seniornya.

“Guting aja Pak, tapi hati-hati!” Perintah Ujang, kemudian kurasakan gamisku di gunting dan brakupun ikut di gunting hingga saya benar-benar telanjang lingkaran menyisakan kaos kaki sewarna dengan warna kulitku, dan kerudungku yang berwarna biru. “Maaf ya Bu gamisnya kami rusak, tapi besok-besok gak akan lagi.” Bisik Ujang, ia mengecup lembut pipiku.

“Jangan Mas, kasihani aku.” Aku kembali memelas.

Tapi yang terjadi kedua payudarahku kembali di gerayangi mereka berdua. Ujang di sebelah kanan menghisap dan menjilati puttingku, sementara Pak Rusman di sebela kiriku sedang menggigit, dan menekan putting payudarahku.

Perlahan kakiku di lebarkan, dan kurasakan jilatan di paha kananku, kemudian bergantian dengan paha kiriku.

Aaahkkk… Kepalaku mendongak keatas ketika ujung pengecap Pak Darto membelai bibir vaginaku, rasanya… Ya Tuhan, Aahkk… Aku belum perna mencicipi ini, Suamiku tidak perna mau melaksanakan ini.

Pak Darto begitu lihai memainkan lidahnya, ia mengecup dan menghisap clitorisku, membuatku di paksa untuk bertahan mati-matian semoga tidak mendesah sanking nikmatnya, rasanya saya ingin mulutku di sumpal, atau di lakban semoga saya tidak perlu mengerang ataupun mendesah nikmat ibarat ini.

Lidah Pak Darto menari-nari, melaksanakan gerakan naik turun dan terkadang melingkar.

Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. “Aaahkk… Pak!” Aku mendesah… Oohk… Akhirnya saya tidak tahan lagi.

Rasanya terlalu geli nikmat di payudarahku ataupun di vaginaku. Aku merasa sedikit lagi saya mau pipis, dan perasaan ini semakin membuatku meras bersalah.

Maafkan saya Mas, saya mencintaimu tapi ini terlalu menyiksaku Mas.

“Aku… dapeeeeet!” Aku memekik ketika orgasme melandaku.

####

Tiga
Pov Toni

Marah, benci dan cemburu… Semuanya menjadi satu, ketika saya meliihat Irwan yang sedang bercengkrama dengan Bunda di dapur. Irwan sibuk mengaduk masakan, sementara Bunda sibuk mengiris bawang merah.

Sementara saya di sini, di balik tembok ini saya melihat Bunda yang sedang mengobrol ringan, sesekali ia tertawa mendengar lolucon Irwan.

Seandai saja Bunda tau, siapa yang memukulku, akankah Bunda membelaku? Bunda… selama ini Mas Irwan yang suka memukulku, ia suka mengambil uang jajanku, tapi Bunda malah semakin bersahabat dengan orang yang selalu menciptakan putramu ini terluka.

Rasanya saya ingin menangis kalau melihat Bunda yang begitu bersahabat dengan orang yang paling sangat kubenci.

“Bun! Ini sudah mateng belom?”

Bunda melihat sebentar kearah sup yang sedang di masak.” Sebentar lagi…” Jawab Bunda. “Oh ya Wan, emang kau gak ada pr?” Tanya Bunda.

“Ada Bun, emangnya kenapa?”

“Kalau ada pr, mending kau kerjain dulu, biar sisanya Bunda yang nanti menyelesaikannya.” Kulihat Bunda tersenyum kearah Irwan, senyumannya manis ibarat biasanya, tapi senyuman itu menciptakan hatiku makin panas.

“Pr-nya bisa Irwan kerjakan nanti Bunda, tapi kalau untuk bantuin Bunda, Irwan gak bisa menundanya.” Gombal… Si anjing itu memang paling bakir ngegombal, bikin darahku semakin naik.


“Hahaha… kau itu paling bakir ya bikin Bunda seneng, coba kalau seandainya Toni ibarat kamu, suka membantu pekerjaan Bunda, mungkin Bunda bisa sedikit bersantai.”

“Emang Toni kenapa Bunda?”

“Anak itu terlalu di manja, didi manja, jadinya sampe segede ini ia tetap manja, apa-apa harus di layani.” Jelas Bunda, membuatku semakin iri dengan Irwan, ia dengan mudanya bisa mengambil hati Bunda, sementara aku? Bunda selalu mengaggapku ibarat anak kecil”

“Auuuww…” Aku kaget ketika melihat tangan Bunda tiba-tiba berdarah

Tapi saya lebih kaget lagi ketika Irwan tiba-tiba mengambil tangan Bunda, kemudian ia menghisap darah yang keluar dari jari telunjuk Bunda. Aku sudah tidak tahan lagi dengan sikapnya yang sok baik di depan Bunda, saya segera menghampirinya dan kemudian mendorong badan Irwan kebelakang.

Bunda dan Irwan sangat kaget melihat saya yang sudah berdiri diantara mereka.

“Toni?”

“Bunda… Toni gak suka Bunda bersahabat sama Mas Irwan! Dia yang memukuli Toni Bunda, lihat wajah Toni sampa babak belur kayak gini!” Aku menangis, saya sudah tidak tahan lagi melihat Bunda yang terlalu bersahabat dengan Mas Irwa.

Aku menatap Toni dengan padangan menantang, saya tidak takut lagi dengannya. Aku yakin Bunda niscaya mempercayaiku, alasannya saya anaknya, sementara Irwan, ia cuman menumpang hidup di rumahku, ia orang yang tidak tau malu.

“Apa maksud kau Ton?” Tanya Bunda heran.

Aku mengelap air mataku. “Setiap hari ia memukulku Bunda, uang jajanku selalu di ambil, saya sangat membenci ia Bunda.” Aduku sambil mendorong badan Irwan hingga ia kembali terjengkang.

Baru kali ini saya benar-benar merasa puas, akibatnya saya bisa melawannya.

“Apa itu benar Wan?”

Irwan berusaha berdiri, ia hanya membisu saja tak berani memandangku maupun Bunda. Aku tau ketika ini ia sedang ketakuttan, kalau kami akan mengusirnya dari rumah ini. Tapi akan kupastikan ia keluar dari rumah ini.

Bunda mendesah pelan. “Jawab Bunda Irwan?” Ulang Bunda.

Irwan mengangkat wajahnya, ia memandangku kemudian memandang kearah Bunda, kemudian kulihat ada air mata yang mengalir di pipinya.

“Maafin Irwan Bunda, Maafin saya Ton!”

“Irwan, tolong kau jujur sama Bunda, kenapa kau suka memukuli Adik kamu?” Tanya Bunda, saya bahagia tampaknya Bunda sangat marah.

“Toni… Mas tau, dari awal kau memang sudah sangat membenci Mas, walaupun Mas gak tau apa alasan kau begitu membenci Mas, tapi Mas akan pergi dari rumah ini kalau itu yang kau mau. Dan Maafkan Mas alasannya tidak bisa melindungi kau selama ini.” Sial… ia pikir saya akan terpengaruh dengan caranya menangis ibarat itu.

Tidak Mas Irwan, saya sangat membenci dirimu, saya tidak akan perna memaafkan kamu. Selama ini kau selalu memukuliku, dan memperlakukanku ibarat binatang, hari ini saya akan membalas semua perbuatan kau selama ini.

“Bunda tidak mengerti, apa yang sebenarmya terjadi diantara kalian.”

“Irwan cukup sadar diri Bun, saya di sini hanya tamu, tapi… kenapa saya di tuduh memukuli Toni.” Dia menatapku tajam, kemudian tersenyum mengejek. “Aku tau kau sangat membenciku Ton, tapi kalau kau tidak suka saya di sini, kau tinggal bilang, tidak perlu mengusirku ibarat ini Ton!” Katanya balik menyerangku, membuatku cukup kaget dengan kata-katanya.

“Bunda Toni tidak bohong.” Buru-buru saya membela diri.

Bunda menoleh kearahku. “Toni?”

“Dia berbohong Bunda, selama ini ia selalu memukulku, tapi selama ini saya selalu diam.” Kataku meyakinkan Bunda.

“Bunda tidak perna mengajarkanmu berbohong, apa lagi hingga menuduh orang lain ibarat itu. Dari awal Bunda melihat tampaknya kau memang tidak perna menyukai Masmu.” Inilah… yang selama ini saya takutkan, kenapa saya tidak perna mau mengadukan perbuatan Irwan kepadaku.

“Bunsa saya tidak berbohong!”

“Bunda sangat mengenal Masmu, selama ini ia tidak perna berbohong, dan lagi ia anak yang baik, suka membantu Bunda.”

“Tapi Bun…”

“Cukup Nak! Kembali kekamar kamu, mulai besok uang kau Bunda potong.” Astaga…! Bagaimana mungkin Bunda lebih mempercayai orang lain ketimbang diriku sebagai anak kandungnya.

Aki sudah tidak tahan lagi, dari awal seharusnya saya sudah tau kalau Bunda niscaya lebih mempercayai Mas Irwan.

Aku berlari menuju kamarku, sambil menangis, sebelum saya meninggalkan dapur, dia, bajingan itu sempat tersenyum mengejekku. Besok nasibku akan jauh lebi jelek dari hari ini.

###

Ema Salima Salsabila

Secara bergantian saya memandangi wajah dan selangkangan seorang perjaka yang ketika ini sedang melepaskan ikatan kedua tanganku. Kulihat wajah itu terlihat begitu tenang, tanpa beban bagaikan air yang mengalir, tapi berbanding kebalik ketika mataku melihat selangkangannya. Kulihat ada daging tumbuh di sana dengan ukuran yang saya tak tau niscaya seberapa besarnya, tapi yang pasti, benda besar berkepala jamur itu jauh lebih besar ketimbang milik Suamiku.

Deg… didalam hati saya terus meminta maaf keSuamiku atas apa yang telah terjadi ketika ini, dan memohon ampun kepadanya.

Setelah kedua ikatan tanganku terlepas, perjaka itu menggeser posisinya. Tangan kirinya mengangkat kaki kananku, menekuk dan menopang belahan belakang lututku, hingga kakiku melayang beberapa centi dari atas kasur pembantuku Inem.

Dia memposisikan tubuhnya diantara kedua kakiku, kemudian kurasakan ukiran lembut yang memberi sejuta kenikmatan diantara belahan vaginaku yang sudah membanjir basah.

Sementara itu Inem pembantuku mengarakan kameranya didaerah selangkanganku.

“Ibu sudah siap?” Bodoh… ia malah bertanya ibarat itu kepadaku.

Aku mendesah berat. “Jangan Mas Ujang, ini dosa besar, kita dihentikan ibarat ini, kau niscaya mengerti apa maksudku? Apa lagi saya sudah bersuami, jadi tolong hentikan permainan gila ini.” Kataku malah terdengar ibarat memohon kepadanya untuk tetap melanjutkan permainan ini.

“Aaahkk…” Wajahku mendongak keatas tatkala kepala jamur itu mulai beraksi.

Tangan Ujang meraih payudarahku, ia meremasnya cukup keras sambil jemarinya memencet dan memelintir puttingku, membuatku merintih nikmat, membuatku semakin tidak tahan ingin segera di setubuhi olehnya.

“Percayalah, Ibu niscaya menyukai dosa ini!”

Dia berujar sambil mendorong pinggulnya, menekan penisnya yang terus masuk kedalam lorong vaginaku, menembus leher rahimku, menciptakan mataku terbelalak kaget, sanking panjangnya penis Mas Ujang.

Dia tersenyum, wajahnya menggambarkan kepuasan dikarenakan telah berhasim menancapkan senjatanya jauh di dadalam tubuhku.

Aku menggigit bibirku, menahan perih yang bercampur nikmat di dalam vaginaku yang pribadi meresponnya, dengan cara menjepit erat penis milik pembantuku itu.

“Memek Ibu rasanya nikmat sekali, masi ngejepit erat kontolku! Padahal Ibu sudah tidak perawan dan perna melahirkan, tapi… Aahkk!” Erang Ujang ketika ia menarik perlahan penisnya, kemudian ia mendorongnya lagi hingga mentok.

Tidak… Jangan ibarat ini, saya sudah bersuami, tolong hentikaan….

Tanpa bisa berbuat apapun Ujang melesatkan penisnya semakin usang semakin cepat, memompa dan menusuk vaginaku dengan hentakan-hentakan kecil menciptakan tubuhku terguncang dan rasa ngilu bercampur nikmat di sekujur tubuhku.

“Aaaahkk… Mas Ujaang! Aaaahh… Ah….” Aku memohon, menggeleng-gelengkan kepalaku sankin nikmatnya bacokan yang di berikan Ujang.

Maafkan saya Mas… Maafkan Istrimu ini yang sudah mengkhianati kesepakatan suci kita, tapi penis Ujang rasanya… Aahkk… jaug lebih nikmat ketimbang ketika kau melakukannya.

Kupandangi ekspresi wajah Ujang yang tampak begitu puas dikarenakan telah berhasil menyetubuhiku.

Ekpresi itu sangat wajar, siapapun yang berhasil menyetubuhi perempuan sepertiku, niscaya akan merasa sangat besar hati dan merasa sangat beruntung bisa mencicipi jepitan dinding vaginaku.

Lihatlah diriku, seorang perempuan yang selama ini selalu menjaga penampilannya dan selalu menjunjung tinggi harga dirinya sebagai seorang perempuan yang telah bersuami. Sedang berbaring hanya mengenakan kaos kaki dan kerudung lebar yang sudah berantakan dan parahnya lagi, seseorang perjaka berstatus sosial rendah sedang menyetubuhi dirinya selaku majikannya.

“Gimana rasanya Bu? Enakkan?” Dia tersenyum mengejekku.

Ilustasi Cerita Seks Bergambar - Ema Dientot UjangIlustasi Cerita Seks Bergambar – Ema Dientot Ujang

Tapi apa yang ia katakan memang benar, dosa ini terlalu nikmat untuk kuabaikan begitu saja, alasannya rasa ini tak perna kurasakan sepanjang pernikahanku bersama Suamiku.

“Mas… saya pipis lagi!” Rintihku dengan teriakan penuh gairah.

###

Asyfa Salsabila

Bruaaak…

Tubuhku terjengkang kebelakang dan buku yang kubawak berserakan di lantai koridor sekolah,ketika tak sengaja saya menabrak seseorang laki-laki yang berada di depanku. Ternyata laki-laki itu juga tidak melihatku alasannya terlalu sibuk dengan hpnya.

Tentu saja saya ingin marah, tapi sehabis menyadari siapa yang kutabrak menciptakan nyaliku ciut.

Kalau di lihat dari pakaiannya, saya yakin ia salah satu guru di sekolahku, tapi siapa? Aku sendiri merasa tidak perna melihatnya. Tapi kudengar dari informasi yang beredar dari teman-teman di sekolah, akan ada guru gres yang katanya sangat keren mengajar di sekolahku.

“Maaf, kau baik-baik saja?” Tanyanya, sambil membereskan buku-buku milikku yang berserakan di lantai.

Aku yang terpukau dengan ketampanannya, tak bisa berkata apa-apa, saya masih membisu berada di posisiku, hingga mata kami bertemu dan… “Astafirullah…” Buru-buru saya membenarkan posisi rokku yang tersingkap.

Mukaku pribadi merah padam alasannya menahan rasa malu. Aku yakin guru gres itu niscaya sudah melihat celana dalamku.

Duh… kok saya sebego ini sampe gak sadar kalau rokku tersingkap. Dan lagi… kenapa, jantungku jadi berdetak sekencang ini, bahwasanya ada apa denganku, gres kali ini saya mencicipi perasaan abnormal ibarat ketika ini.

“Eehmm… “Dia berdehem untuk menyadarkanku dari lamunanku, segera saya beridiri. “Ini buku kamu, lain kali hati-hati ya.” Ujarnya sembari tersenyum dan menyerahkan bukuku, kemudian ia melangka pergi meninggalkanku sendiri.

###

Ema Salima Salsabila

Kini saya sedang duduk diatas selangkangan Ujang, tubuhku terguncang naik turun, sementara di sisi kiri dan kananku ada Pak Darto dan Pak Rusman, mereka memintaku mengocok penis mereka yang barukuran sangat besar.

Walaupun saya jijik dan merasa sangat berdosa terhadap Suamiku, tapi saya tetap melakukannya.

Kedua tanganku dengan penuh irama bergerak maju mundur mengikuti irama hentakan pinggulku, sementara itu tangan mereka juga tidak tinggal diam, sedari tadi meremasi payudarahku.

“Masi usang Jang?” Tanya Pak Darto, tampaknya ia sudah tidak sabar menunggu gilirannya.

“Masih kayaknya Pak, soalnya ini yummy banget, sayang kalau buru-buru keluar.” Jawab Ujang, yang sedang menikmati penisnya di jepit oleh vaginaku. “Kita main kayak biasa aja Pak!” Sambung Ujang, saya tidak mengerti apa yang di maksud main kayak biasanya yang ibarat yang di katakan Ujang.

“Serius boleh, masi perawan loh Jang!”

“Gak apa-apa Pak! Makan aja.” Ujar Ujang, kemudian kedua tangannya melingkar di panggangku yang ramping.

Dengan sedikit dorongan, tubuhku rebah diatas badan Ujang, hingga payudarahku melekat ketat diatas dadanya, kemudian Ujang mempererat pelukannya hingga saya tak bisa bergerak, sementara itu Pak Darto menghilang dari sampingku, dan Rusman tiba-tiba sudah berdiri di depanku memamerkan penisnya.

Aku tidak tau apa yang mereka inginkan, tapi tiba-tiba pipi pantatku di buka, dengan bersamaan kurasakan ada benda besar yang ingin masuk kedalam anusku. Segera saya menoleh kebelakang dan… “Astafirullah.” Benda besar milik Pak Darto sudah melekat di anusku.

Tubuhku pribadi meronta, tapi pelukan Ujang yang erat membuatku tak bisa bergerak. “Jangaaan Pak! Yang itu saya belum perna!” Aku memohon kepada mereka semoga tidak memasuki anusku.

Selain alasannya takut anusku robek, saya juga merasa abnormal kalau hingga lobangku di masukin penis Pak Darto, melihat Inem barusan di anal saya sudah merasa jijik, apa lagi kalau anusku yang di masuki, rasanya sangat memalukan dan menjijikan.

Membayangkannya saja saya sudah ingin muntah, apa lagi hingga melakukannya.

“Jangan di lawan Bu, nanti rasanya makin sakit, rilex aja… Nanti Ibu niscaya ketagihan tiga lobangnya di masukin! Saya aja ketagihan.” Kata Inem, ia mengarahkan kameranya di selangkanganku.

“Tahan ya Bu.”

“Tu… tunggu Paaak…” Aku memekik pelan ketika anusku di masuki kepala penis Pak Darto.

Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu ibarat tak perduli dengan ucapanku, ia tetap memaksakan penisnya masuk semakin dalam keanusku, hingga saya merasa anusku dipaksa membuka selebar mungkin.

Mataku terbelalak dan mulutku terbuka lebar sanking sakitnya.

Dan sialnya Pak Rusman memanfaatkan mulutkku yang terbuka dengan menjejalkan penisnya kedalam mulutku.

Makara ini yang di katakan Inem tiga lobang tadi? Aahk… rasanya sakit tapi kenapa saya merasa begitu seksi dengan kondisiku ibarat ketika ini. Seorang perempuan jilbaber melayani tiga laki-laki sekaligus rasanya agak abnormal dan memalukan tapi niscaya terlihat sangat menggairahkan.

Kucoba untuk membiasakan diriku dengan kondisiku ketika ini, dan ternyata memang benar apa yang dikatakan Inem, saya mulai menikmatinya.

Mereka bertiga secara serempak menggoyang pinggul mereka, memenuhi ketiga lobangku yang paling berharga, bahkan Suamiku sendiri belum perna mencicipi ketiga lobangku.

“Pantatnya Ibu yummy loh, keseet banget! Bapak belum perna coba ya Bu?” Tanya Pak Darto, sambil menyodomiku ia menampar kecil pantatku.

“Ya pastilah belum perna, mana ngerti Bapak yang enak-enak, benerkan Bu?” Timpal Pak Rusman, ia mencabut penisnya dari mulutku, sehingga saya bisa menarik nafas dengan bebas.

Aku mendesah nikmat. “Tidak perna… Aahkk… Soalnya ini tidak boleh, ini biang penyakit! Aahkk… Sudah… saya tidak mau lagi.. Aku Hhmmpp…” Mulutku kembali di sumpal oleh penis Pak Rusman, ia kembali menggoyangkan pinggulnya.

Mereka semua sangat kurang ajar, dan berani memperlakukanku ibarat binatang.

Lima menit kemudian, Ujang mengerang bersamaan denganku, kami mencapai puncaknya bersama-sama. Lalu di susul oleh Pak Rusman yang memuntahkan spermanya di dalam mulutku, dan sebagian spermanya tertelan olehku, sebagian lagi mengenai wajah dan kerudungku.

Rasanya sangat abnormal ketika saya menelan sperma Pak Rusman, alasannya ini ialah pengalaman pertamaku menelan sperma, tapi entah kenapa saya merasa ibarat menyukainya.

Tinggal Pak Darto yang belum keluar, ia semakin cepat menggoyang pinggulku.

“Bu… saya mau keluar!” Erangnya.

Aku menggigit bibirku alasannya saya juga ingin keluar untuk kesekian kalinya. “Paak…” Rintihku pelan ketika orgasmeku datang, kemudian di susul Pak Darto yang menyirami anusku.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Para Bidadari Dari Nirwana Part 1"

Posting Komentar