Kumpulan Dongeng Seks Ayah Tiriku Yang Bejat

Kumpulan Cerita Seks 2019 - Ayahku sudah sekitar 3 tahun meninggal dunia, meninggalkan ibu dan anak-anak, saya dan adikku Charles yang masih kecil. Kini Charles sudah duduk di kelas 8 SD sedang saya sudah tamat SMU, mulai kuliah di Akademi Pariwisata dan Perhotelan. Meski menerima dana pensiun tetapi amat kecil jumlahnya.

Maklum, ayahku hanya pegawai kecil di Pemerintah Daerah KMS. Untuk menyambung hidup dan membiayai sekolahku dan Charles, ibuku terpaksa membuka toko jamu di samping rumah. Lumayan, alasannya ialah selain jualan jamu ibu juga menjual rokok, permen, alat-alat tulis, pakaian belum dewasa dan sebagainya. Tentu saja, saya membantu ibu dengan sekuat tenaga. Siapa lagi yang bisa membantu ia selain aku?

Charles masih terlalu kecil untuk bisa membantu dan mengerti perihal kesulitan hidup. Meski usia ibu sudah berkepala empat tetapi masih anggun dan bentuk tubuhnya masih montok dan menarik. Maklum ibu memang suka memelihara tubuhnya dengan jamu Jawa. Selain itu, semenjak muda ibu memang cantik. Ibuku blasteran, ayahnya belanda dan Ibu Sunda. Ayahku sendiri dari suku Ambon tetapi kelahiran Banyumas. Ia lebih Jawa ketimbang Ambon, meski namanya Ambon. Selama hidup hingga meninggal ayah bahkan belum pernah melihat Ambon.

Ayah meninggal lantaran kecelakaan bus ketika bertugas di Jakarta. Bus yang ditumpanginya ngebut dan nabrak truk tangki yang memuat materi bakar bensin. Truk dan bus sama-sama terbakar dan tak ada seorang penumpangpun yang selamat termasuk ayahku.

Sejak itu, ibuku menjanda hingga tiga tahun lamanya. Baru setahun yang kemudian belakang layar ibu pacaran dengan duda tanpa anak, sobat sekantor ayahku dulu. Namanya Sutoyo, usianya sama dengan ibuku, 42 tahun. Sebenarnya saya sudah curiga, alasannya ialah Pak Toyo (aku memanggil-nya “Pak” lantaran sobat ayahku) yang rumahnya jauh sering tiba minum jamu dan ngobrol dengan ibuku. Lama-lama mereka jadi dekat dan lebih banyak ngobrolnya daripada minum jamu. Kecurigaanku terbukti ketika pada suatu hari. ibu memanggilku dan diajaknya bicara secara khusus.
“Begini Cyn”, kata ibu waktu itu.
“Ayahmu kan sudah tiga tahun meninggalkan kita, sehingga ibu sudah cukup lama menjanda.”

Aku eksklusif bisa menebak apa yang akan dikatakan ibu selanjutnya. Aku sudah cukup cukup umur untuk mengetahui betapa sepinya ibu ditinggal ayah. Ibu masih muda dan cantik, tentunya ia butuh seseorang untuk mendampinginya, melanjutkan kehidupan. Aku sadar alasannya ialah saya juga perempuan meski belum pernah menikah.

“Ibu tak bisa terus menerus hidup sendiri. Ibu butuh seseorang untuk mendampingi ibu dan merawat kalian berdua, kau dan adikmu masih butuh perlindungan, masih butuh kasih sayang dan tentu saja butuh biaya untuk melanjutkan studi, kalian demi ibu sudi menikah kembali dengan Pak Toyo dengan keinginan masa depan kalian lebih terjamin.
Kamu mengerti?” begitu kata ibu.
“Ibu mau menikah dengan Pak Toyo?” saya eksklusif saja memotongnya.
“Tidak apa-apa kok Bu, Pak Toyo kan orang baik, duda lagi. Apalagi dia kan bekas sobat ayah dulu!”.
“Rupanya kau sudah cukup cukup umur untuk bisa membaca segala sesuatu yang terjadi sekelilingmu, Cyn”, ibu tersenyum. “Kamu benar-benar menyerupai ayahmu.”

Tak berapa lama kemudian ibu menikah dengan Pak Toyo dengan sangat sederhana dan hanya dihadiri oleh kerabat dekat. Sesudah itu ibu diboyong ke rumah Pak Toyo, dan rumah kami, kios dan segala isinya menjadi tanggung jawabku. Ibu tiba pagi hari sesudah kios saya buka dan pulang sore hari dijemput Pak Toyo sepulangnya dari kantor.

Kehidupan kami senang dan biasa-biasa saja hingga pada suatu hari, sekitar empat bulan sesudah ibu menikah, suatu bencana di rumah tangga terjadi tanpa setahu ibuku. Aku memang sengaja membisu dan tidak membicarakan insiden itu kepada ibuku, saya tidak ingin melukai perasaannya. Aku terlalu sayang pada ibu dan biarlah kutanggung sendiri.

Kejadian itu bermula ketika saya sedang berada di rumah ibuku (rumah Pak Toyo) mengambil beberapa barang dagangan atas suruhan ibu. Hal tersebut biasa kulakukan apabila saya sedang tidak kuliah. Bahkan saya juga sering tidur di rumah ibuku bersama adik. Tak jarang sehari penuh saya berada di rumah ibu ketika ibu berada di rumah kami menjaga kios jamu.

Kadangkala saya memang butuh ketenangan berguru ketika sedang menghadapi ujian semester. Rumah ibu Sepi di siang hari alasannya ialah Pak Toyo bekerja dan ibu menjaga kios, sementara di rumah itu tidak ada pembantu. Siang itu ibu menyuruhku mengambil beberapa barang di rumah Pak Toyo lantaran persediaan di kios habis. Ibu memberiku kunci semoga saya bisa masuk rumah dengan leluasa. Tetapi ketika saya tiba ternyata rumah tidak dikunci alasannya ialah Pak Toyo ada di rumah. Aku sedikit heran, kenapa Pak Toyo pulang kantor begitu awal, apakah sakit?
“Lho, Bapak kok sudah pulang?” tanyaku dengan sedikit heran. “Sakit ya Pak?”.
“Ah tidak”, jawab Pak Toyo.” Ada beberapa surat ketinggalan. kau sendiri kenapa kemari? Disuruh ibumu ya?”.
“Iya Pak, ambil beberapa barang dagangan”, jawabku biasa-biasa saja. Seperti biasa saya terus saja nyelonong masuk ke ruang dalam untuk mengambil barang yang kuperlukan.

Tak kusangka, Pak Toyo mengikutiku dari belakang. Ketika saya sudah mengambil barang dan hendak berbalik, Pak Toyo berdiri begitu dekat dengan diriku sehingga hampir saja kami bertubrukan. Aku kaget dan lebih kaget lagi ketika tiba-tiba Pak Toyo memeluk pinggangku. Belum sempat saya protes, Pak Toyo sudah mencium bibirku, dengan lekatnya.

Barang dagangan terjatuh dari tanganku ketika saya berusaha mendorong tubuh Pak Toyo semoga melepaskan tubuhku yang dipeluknya erat sekali. Tetapi ternyata Pak Toyo sudah kerasukan setan jahanam. Ia sama sekali tak menghiraukan doronganku dan bahkan semakin mempererat pelukannya. Aku tak berhasil melepaskan diri. Pak Toyo menekan tubuhku dengan tubuhnya yang besar dan berat. Aku mau berteriak tetapi tiba-tiba ajun Pak Toyo menutup mulutku.
“Kalau kau berteriak, semua tetangga akan berdatangan dan ibumu akan sangat malu”, katanya dengan bunyi serak.
Nafasnya terengah-engah menahan nafsu. “Berteriaklah semoga kita semua malu!”

Aku jadi ketakutan dan tak berani berteriak. Rasa takut dan kasihan kepada ibu menciptakan saya luluh. Pikirku, bagaimana jikalau hingga orang lain tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang diperbuat suami ibuku terhadapku.

Belum lagi saya jernih berpikir Pak Toyo menyeretku masuk ke kamar tidur dan mendorongku hingga jatuh telentang di daerah tidur. Dengan garangnya Pak Toyo menindih tubuhku dan menciumi wajahku. Sementara tangannya yang kanan tetap mendekap mulutku, tangan kirinya mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Benda kecil licin segera dipaksakan masuk ke dalam mulutku. Benda kecil yang ternyata kapsul lunak itu pecah di dalam lisan dan terpaksa tertelan. Setelah menelan kapsul itu mataku jadi berkunang-kunang, kepalaku jadi berat sekali dan anehnya, gairah seksku timbul secara tiba-tiba. Jantungku berdebar keras sekali dan pedoman darahku terasa amat cepat. Entah bagaimana, saya pasrah saja dan bahkan begitu mendambakan sentuhan seorang lelaki. Gairah itu begitu memuncak dan menggebu-gebu itu tiba secara tiba-tiba menyerang seluruh tubuhku.

Samar-samar kulihat wajah Pak Toyo menyeringai di atasku. Perlahan-lahan ia bangun dan melepaskan seluruh pakaianku. Kemudian ia membuka pakaiannya sendiri. Aku tak bisa menolak. Diriku menyerupai terbang di awang-awang dan meski tahu apa yang sedang terjadi, tetapi sama sekali tak ada niat untuk melawan.

Begitu juga ketika Pak Toyo yang sudah tak berpakaian menindih tubuhku dan menggerayangi seluruh badanku, saya pasrah saja. Bahkan ketika saya mencicipi suatu benda asing memasuki tubuhku, saya tak bisa berbuat apa-apa. Tak kuasa untuk menolak, lantaran saya mencicipi kenikmatan luar biasa dari benda asing yang mulai menembus dan bergerak-gerak di dalam liang kewanitaanku. Kesadaranku entah berada di mana. Hanya saja saya tahu, apa yang sedang terjadi pada diriku, Aku telah diperkosa Pak Toyo!

Ketika siuman, kudapati diriku telentang di ranjang Pak Toyo (yang juga ranjang ibuku) tanpa busana. Pakaianku awut-awutan di bawah ranjang. Sprei morat-marit dan kulihat bercak darah di sprel itu. Aku menangis…, saya sudah tidak perawan lagi! Aku sudah kehi1angan apa yang paling bernilai dalam hidup seorang wanita. Aku merasa jijik dan kotor. Aku bangun dan bab bawah tubuhku terasa sakit sekali…, nyeri! Tetapi saya tetap berusaha bangun dan dengan tertatih-tatih berjalan ke kamar mandi. Kulihat jam dinding, Wah…, Sudah tiga jam saya berada di rumah itu. Aku harus segera pulang semoga ibu tidak menunggu-nunggu. Aku segera mandi dan membersihkan diri serta berdandan dengan cepat.

Kuambil barang dagangan yang tercecer di lantai dan segera pulang. Pak Toyo sudah tidak kelihatan lagi, mungkin sudah kembali ke kantor. Kubiarkan ranjang morat-marit dan sprei berdarah itu tetap berada di sana. Aku tak peduli. Hatiku sungguh hancur lebur. Kebencianku kepada Pak Toyo begitu dalam. Pada suatu saat, saya akan membalasnya.
“Kok lama sekali?” tanya ibu ketika saya datang.
“Bannya kempes Bu, nambal dulu!” jawabku sambil mencoba menutupi perubahan wajahku yang tentu saja pucat dan malu. Kuletakkan barang dagangan di meja dan rasanya ingin sekali saya memeluk ibu dan memohon maaf serta menceritakan apa yang telah dilakukan suaminya kepadaku.

Tetapi hati kecilku melarang. Aku tak ingin menciptakan ibu duka dan kecewa. Aku tak ingin ibuku kehilangan kebahagiaan yang gres saja didapatnya. Aku tak kuasa membayangkan bagaimana hancurnya hati Ibu bila mengetahui apa yang telah dilakukan suaminya kepadaku. Biarlah Untuk sementara kusimpan sendiri kepedihan hati ini.

Dengan alasan hendak ke rumah teman, saya mandi dan membersihkan diriku (lagi). Di kamar mandi saya menangis sendiri, menggosok seluruh tubuhku dengan sabun berkali-kali. Jijik rasanya saya terhadap tubuhku sendiri. Begitu keluar dan kamar mandi saya eksklusif dandan dan pamit untuk ke rumah teman. Padahal saya tidak ke rumah siapa-siapa. Aku larikan motorku keluar kota dan memarkirnya di tambak yang sepi. Aku duduk menyepi sendiri di sana sambil menguras air mataku.
“Ya Tuhan, ampunilah segala dosa-dosaku” ratapku seorang diri.

Baru sore menjelang magrib saya pulang. Ibu sudah dijemput Pak Toyo pulang ke rumahnya sehingga saya tak perlu bertemu dengan lelaki bejat itu. Kios masih buka dan adik yang menjaganya. Ketika saya pulang, saya yang menggantikan menjaga kios dan adik masuk untuk belajar.

Untuk beberapa hari lamanya saya sengaja tidak ingin bertemu Pak Toyo. Malu, benci dan takut bercampur aduk dalam hatiku. Aku sengaja menyibukkan diri di belakang apabila pagi-pagi Pak Toyo tiba mengantar ibu ke kios. Sorenya saya sengaja pergi dengan aneka macam alasan ketika Pak Toyo menjemput ibu pulang.

Namun meski saya sudah berusaha untuk terus menghindar, insiden itu toh terulang lagi. Peristiwa kedua itu sengaja diciptakan Pak Toyo dengan nalar liciknya. Ketika sore hari menjemput ibu, Pak Toyo menyampaikan bahwa ia gres saja membeli sebuah sepeda kecil untuk adikku, Charles. Sepeda itu ada di rumah Pak Toyo dan adik harus diambil nya sendiri.

Tentu saja adikku amat bangga dan ketika Pak Toyo menyarankan semoga adik tidur di rumahnya, adik baiklah dan bahkan ibu dengan senang hati mendorongnya. Bertiga mereka naik kendaraan beroda empat dinas Pak Toyo pulang ke rumah mereka. Karena tidak ada orang lain di rumah, sebelum Pukul sembilan kios sudah kututup.

Rupanya, sesudah hingga di rumah dan menyerahkan sepeda kecil kepada adik, Pak Toyo beralasan harus kembali ke kantor lantaran ada pekerjaan yang harus diselesaikannya malam itu juga. Ibu tidak curiga dan sama sekali tidak mengira kelau kepergian suaminya bekerjsama tidak ke kantor, melainkan kembali ke kios untuk nemperkosaku.

Waktu itu sudah pukul sepuluh malam dan kios sudah lama saya tutup. Tiba-tiba saja Pak Toyo sudah ada di dalam rumah. Rupanya Ia punya kunci milik ibu sehinga ia bisa bebas keluar masuk rumah kami. Aku amat kaget dan ingin mendampratnya, tetapi kembali dengan hening dan wajah menyeringai, Pak Toyo mengancamku “Ayo, berteriaklah semoga semua tetangga tiba dan tahu apa yang sudah saya lakukan terhadapmu!” ancamnya serius. “Ayo berteriaklah semoga ibumu aib dan seluruh keluargamu tercoreng!” tambahnya dengan bunyi serak.

Sekali lagi saya terperangah. Mulutku sudah mau berteriak tetapi kata-kata Pak Toyo sekali mengusik hatiku. Perasaan takut akan terdengar tetangga, ketakutan nama ibuku akan menjadi tercoreng, kecemasan bahwa tetangga akan mengetahui insiden perkosaanku, saya hanya berdiri terpaku memandang wajah penuh nafsu yang siap menerkamku. Aku tak bisa berpikir jernih tagi. Hanya perasaan takut dan takut yang terus mendesak naluriku.

Sebelum saya bisa mengambil keputusan apa yang akan kulakukan, Pak Toyo sudah maju dan mendekap tubuhku. Sekali lagi saya ingin berteriak tetapi suaraku tersendat di tenggorokan. Entah bagaimana awalnya namun yang saya tahu lelaki itu sudah menindih tubuhku dengan tanpa busana. Yang jelas, malam itu saya terpaksa melayani nafsu suami ibuku yang menggebu-gebu.

Dengan ganas ayah tiriku itu memperlakukan saya menyerupai pelacur. Ia memperkosaku berkali-kali tanpa belas kasihan. Dengus nafasnya yang berat dan tubuhnya yang menindih tubuhku apalagi ketika ada sesuatu benda keras mulai masuk menyeruak membelah bab sensitif dan paling terhormat bagi kewanitaanku menciptakan saya merintih kesakitan. Aku benar-benar dijadikannya pemuas nafsu yang benar-benar tak berdaya.

Pak-Toyo berpengaruh sekali. Ia memaksaku berbalik kesana kemari berganti posisi berkali-kali dan saya terpaksa berdasarkan saja. Hampir dua jam Pak Toyo mengakibatkan tubuhku sebagai bulan-bulanan nafsu seksnya. Bukan main! Begitu ia akan selesai kulihat Pak Toyo mencabut batangannya dari kemaluanku dengan gerakan cepat ia mengocok-ngocokkan batangannya yang keras itu dengan sebelah tangannya dan dalam hitungan beberapa detik kulihat cairan putih kental menyemprot dengan banyak dan derasnya keluar dari batang kejantanannya, cairan putih kental itu dengan hangatnya menyemprot membasahi wajah dan tubuhku, ada rasa jijik di hatiku selain kurasakan bau dan asin yang kurasakan ketika cairan itu meleleh menuju bibirku, sesudah itu ia lunglai dan terkapar di samping tubuhku, tubuhku sendiri bagai hancur dan tak bertenaga.

Seluruh tubuhku terasa amat sakit, dan air mata bercucunan di pipiku. Namun terus terang saja, saya juga mencapai orgasme. Sesuatu yang belum pernah kualami sebelumnya. Entah apa yang menciptakan ada sedikit perasaan senang di dalam hatiku. Rasa puas dan kenikmatan yang sama sekali tak bisa saya pahami. Aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa terjadi, tetapi kadangkala saya justru rindu dengan perlakuan Pak Toyo terhadapku itu. Aku sudah berusaha berkali-kali menepis perasaan itu, tetapi selalu saja muncul di benakku. Bahkan kadangkala saya menginginkan lagi dan lagi! Gila bukan?

Dan memang, ketika pada suatu sore ibu sedang pergi ke luar kota dan Pak Toyo mandatangiku lagi, saya tak menolaknya. Ketika ia sudah berada di atas tubuhku yang telanjang, saya justru menikmati dan mengimbanginya dengan penuh semangat. Rupanya apa yang dilakukan Pak Toyo terhadapku telah menjadi semacam candu yang membuatku menjadi kecanduan dan ketagihan. Aku kini mulai menikmati seluruh permainan dan gairah yang luar biasa yang tak bisa kuceritakan ketika ini dengan kata-kata.

Pak Toyo begitu bernafsu dan menikmati seluruh lekuk-lekuk tubuhku dengan liarnya, akupun mulai berani mencoba untuk mencicipi bagian-bagian tubuh seorang lelaki, akupun kini mulai berani untuk balas mencumbui, membelai seluruh bab tubuhnya dan mulai berani untuk menjamah batang kejantanan ayah tiriku ini, begitu keras, panjang dan hangat. Aku menikmati dengan sungguh-sungguh, Luar Biasa!

Pada final permainan Pak Toyo terlihat amat puas dan begitu juga aku. Namun lantaran malu, saya tak berkata apa-apa ketika Pak Toyo meninggalkan kamarku. Aku sengaja membisu saja, semoga tak menyampaikan bahwa saya juga puas dengan permainan itu. Bagaimanapun juga saya ialah seorang perempuan yeng masih punya rasa malu. Akan tetapi, ketika Pak Toyo sudah pergi ada rasa sesal di dalam hati. Ada perasaan aib dan takut. Bagaimanapun Pak Toyo ialah suami ibuku. Pak Toyo telah menikahi ibuku secara sah sehingga ia menjadi ayah tiriku, pengganti ayah kandungku.

Adalah dosa besar melaksanakan kekerabatan tak senonoh antara anak dan ayah tiri. Haruskah kulanjutkan pertemuan dan kekerabatan penuh nafsu dan maksiat ini?

Di saat-saat sepi sediri saya termangu dan tetapkan untuk menjauh dan Pak Toyo, serta tidak melaksanakan kekerabatan gelap itu lagi. Namun di saat-saat ada kesempatan dan Pak Toyo mendatangiku serta mengajak “bermain” saya tak pernah kuasa menolaknya. Bahkan kadangkala bila dua atau tiga hari saja Pak Toyo tidak tiba menjengukku, saya merasa kangen dan ingin sekali mencicipi jamahan-jamahan hangat darinya.

Perasaan itulah yang kemudian menciptakan saya semakin tersesat dan semakin tergila-gila oleh “permainan” Pak Toyo yang luar biasa hebat. Dengan penuh kesadaran kesudahannya saya menjadi perempuan simpanan Pak Toyo di luar pengetahuan ibuku.

Sampai kini rahasia kami masih tertutup rapat dan pertemuan kami sudah tidak terjadi di rumah lagi, tetapi lebih banyak di losmen, hotel-hotel kecil dan di tempat-tempat peristirahatan. Yah, disana saya dan Pak Toyo bisa bermain cinta dengan penuh rasa sensasi yang tinggi dan tidak kuatir akan kepergok oleh ibuku, kini saya dan ayah tiriku sudah menyerupai menjadi suami istri.

Untuk mencegah hal-hal yang sangat mungkin terjadi, dalam melaksanakan kekerabatan seks Pak Toyo selalu menggunakan kondom dan saya pun rajin minum jamu terlambat bulan. Semua itu tentu saja di luar sepengetahuan ibu. Aku memang puas dan senang dalam soal pemenuhan kebutuhan biologis, tetapi bekerjsama jauh di dalam lubuk hati-aku sungguh terguncang. Bagaimana tidak? Aku telah merebut suami ibuku sendiri dan ‘memakannya’ secara bergantian.

Kadangkala saya juga merasa kasihan kepada ibu yang sangat mencintaiku. Kalau saja hingga ibu tahu kekerabatan gelapku dengan Pak Toyo, Ibu niscaya akan duka sekali. Hatinya bakal hancur dan jiwanya tercabik-cabik. Bagaimana mungkin anak yang amat disayanginya bisa tidur dengan suaminya? Sampai kapan saya akan menjalani hidup yang tak senonoh dan penuh dengan maksiat ini?

Entahlah, kini ini saya masih kuliah. Mungkin bila nanti sudah lulus dan jadi sarjana saya bisa keluar dan lingkugan rumah dan bekerja di kota lain. Saat ini mungkin saya belum punya kekuatan untuk pergi, tetapi suatu ketika nanti saya niscaya akan pergi jauh dan mencari lelaki yang benar-benar sesuai dan sanggup kuandalkan sebagai suami yang baik, dan tentunya kuharapkan lebih perkasa dari yang kudapatkan dan kurasakan sekarang.
Mungkin dengan cara itu saya bisa melupakan Pak Toyo dan melupakan peristiwa-peristiwa yang sangat memalukan itu.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kumpulan Dongeng Seks Ayah Tiriku Yang Bejat"

Posting Komentar