![]() |
| Kumpulan Cerita Seks 2019 - ABG SMU Pengen Ngerasain ML |
Tingginya sekitar 155 cm, berat 47 kg. Badannya mungil tapi montok. Bahu yang datar dan tubuh yang tegap dihiasi dengan sepasang payudara indah berukuran 32B yang proporsional sekali dengan tubuhnya. Pantat yang terbentuk rapi disertai sepasang kaki yangindah, terutama betisnya.
Pinggang yang ramping, perut yang datar dan pinggul yang tidak terlalu besar. Tapi sungguh, dengan keadaan tubuh menyerupai itu, tidak ada laki-laki yang bisa menahan napsunya jikalau melihatnya sedang telanjang bulat. Tentu saja.Kejadian ini kualami kalau tidak salah hari Kamis tanggal 7 Desember1998. Aku barus saja menjemputnya pulang sekolah jam setengah dua siang.
Biasanya sich ia bawa motor sendiri, cuman hari itu entah kenapa ia berangkat sekolah naik becak. Jadinya ketika pulang sekolah ia menelponku minta dijemput. Panas sekali hari itu. Saat hingga di rumahnya saya tidak eksklusif pulang. Aku mampir sejenak buat sekedar menghilangkan rasa haus. Aku duduk di ruang tamu, di sofa yang panjang, sementara ia mengganti baju sekolahnya dengan gaun santai.
Entah model apa bajunya, yang terperinci ia menggunakan kaos dengan celana pendek yang berbahan kaos juga. Dia tampak seksi sekali dengan dandanan menyerupai itu. Dia balik sambil membawa segelas sirup dingindan kemudian tiduran di sofa dengan posisi kepalanya di pangkuanku.
Kami pun berbasa-basi, saling menanyakan kabar masing-masing. Karena memang kita sudah usang tidak ketemu. Aku barusan pulang dari Jogja, tinggal di sana beberapa hari. Dia orangnya memang praktis sekali kangen sama pacarnya. Ditinggal beberapa hari saja sudah sepertisebulan hebohnya. Dan kalau ia sedang kangen, rugi saya kalau tidak ada di sisinya. Tau maksudnya kan?
Lalu kami mulai bercerita perihal acara kami masing-masing selama ini sambil sesekali saling mencumbu, berciuman dan berpagutan mesra. Saling memainkan lidah. Kubiarkan mulutnya melumat bibirku. Kubiarkan giginya menggigit lembut bibirku. Kurasakan lidahnya menari-nari di dalam mulutku. Napasnya yang lembut mendera wajahku. Oh ya, saya paling suka “kissing” dengannya ketika ia sedang makan coklat. Rasanya jadi tambah enak. Dan menyerupai biasa kalau kami sedang berasyik masyuk, kedua belah tanganku selalu menari-nari di tubuhnya. Selalu! Orang dianya sendiri yang minta buat dijamah.
“Pokoknya kalau kau sedang mencumbuku, sekalian dech tangan kau ngerjain tubuhku. Biar tidak nanggung. Tapi harus di belahan yang sensitif. Seperti di kawasan sini, sini dan di sini!” katanya kepadaku suatu waktu sambil tangannya menunjuk leher, dada dan bawah perutnya. Enak katanya. Akunya sich oke-oke aja. Siapa yang bakal menolak ditawarin kerjaan menyerupai itu.
Mulailah pekerjaanku. Kudekatkan kepalaku ke lehernya, kukecup perlahan leher itu kemudian kugigit perlahan. Dia mendongakkan kepalanya tanda ia merasa kegelian. Kucium kawasan telinganya dan kukulum belahan indera pendengaran yang menggelambir. Dia mendesah perlahan dan kemudian melingkarkan kedua tangannya ke leherku. Tangan kananku pun berusaha menopang punggungnya biar tubuhnya sedikit tegak dan tangan kiriku segera kumasukkan ke balik bajunya, menjadikan kaosnya terangkat hingga ke perut. Tanganku menyentuh kulitnya yang halus. Menyusup ke punggungnya untuk melepas tali BH-nya. Dan mulailah tanganku menjelajahi bukit barisan itu. Kuremas payudaranya, terasa lembut sekali, diapun merintih. Kupilin putingnya, ia mengerang.
Kutarik puting itu dan diapun mendesah. “Ahh..!” Kuputar-putar jariku di sekitar puting itu “Sshhh..!” Dia mengerang mencicipi kenikmatan itu. Kuremas-remas buah dada itu berulangkali, kucubit bukit itu. Rasanya kenyal sekali. Nggak bakalan bosan walaupun tiap hari saya disuruh menyentuhnya.
Lalu tanganku pun turun menyusuri perutnya, menuju hutan tropis. Masuk ke dalam celana dalamnya yang terbuat dari kain satin dengan sedikit renda pada belahan vaginanya. Kutemukan tumpukan kecil daging yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Kugunakan jari telunjuk dan jari manisku untuk membelah labianya yang masih terasa liat sementara jari tengahku kumasukan sedikit ke dalam liang senggamanya. “Mmhhh…” Dia kegelian. Kedua kakinya nampak terjulur lurus, sedikit menegang.
Kucari seonggok daging kecil diantaranya. Bagian yang bisa mengantarkan seorang perempuan mencicipi apa arti hidup yang sesungguhnya. Setelah kutemukan mulai tanganku memainkannya. Kusentuh klitoris itu lembut sekali, namun kesudahannya sungguh luar biasa.
Tubuhnya menggelinjang jago dengan kedua kaki terangkat ke atas menggapai-gapai di udara. Dia melenguh dengan mata terpejam dan pengecap yang menjilati bibirnya. Langsung kulumat mulutnya. Dia pun membalas dengan ganas. “Uuhhhh…” Lalu tangan kiriku berusaha menarik klitorisnya, kupencet, kusentil, kupetik, kugesek dengan jari tengahku. Dia memang paling suka disentuh klitorisnya. Dan kalau sudah disentuh, bisanya menyerupai orang sakau. Mendesah, mengerang, dan menggigil.
Pernah suatu ketika saya ditelpon supaya tiba ke rumahnya cuma untuk “memainkan” klitorisnya. Ya, ampuun… sesudah puas bermain api, kami pun mencari air untuk menyiramnya. Ehh.. sorry, ngelantur. Tak usang kemudian ia mengajakku ke lantai dua.
“Mas, naik ke atas yuk?” “Mo ngapain?” tanyaku.
“Ke kamarnya Mbak Dian, di sini panas. Ada AC di sana.” “Boleh!” saya setuju.
Kami pun naik ke lantai dua. Satu persatu anak tangga itu kami lewati dan kami pun masuk ke kamar Mbak Dian. Aku eksklusif tiduran di tempat tidur, sementara ia menyalakan AC-nya. Lalu ia rebah di sampingku. Kami bercerita lagi dan bercumbu lagi. Kali ini kulepas kaosnya, setumpuk daging segar menggunung di dadanya yang tertutup BH semi transparan seolah ingin melompat keluar. Waw, menantang sekali dan kemudian dengan berangasan kusentakkan BH itu hingga terlepas, kemudian terhamparlah pemandangan alam. Nampak Sindoro Sumbing yang berjejer rapi. Bergelanyut manja di dadanya. Putingnya yang berwarna coklat kemerahan kokoh tegak ke atas mengerling ke arahku menantang untuk kunikmati. Payudaranya betul-betul indah bentuknya, terbungkus kulit kuning langsat tanpa cacat sedikitpun, yang tampak membias jikalau terkena cahaya, yang menerangkan payudara itu masih sangat kencang. Maklum payudara perawan yang rajin merawat tubuh. Namun dengan payudara menyerupai itu, jangankan menyentuh, cuma dengan memandangnya saja kita akan segera tahu kalau payudara itu diremas akan terasasangat lembut di tangan.
Kudekatkan wajahku ke dadanya. Mulutku kubuka untuk menikmati kedua payudaranya. Bau harum khas tubuhnya semerbak merasuk ke dalam hidungku. Kuhisap salah satu putingnya, kugigit-gigit kecil. Lidahku bergerak memutar di sekitar puting susunya. Dia mengejang kegelian. Menjambak rambutku dan ditekankan kepalaku ke dadanya. Wajahku terbenam di sana. Kugigit sedikit belahan dari bukit itu dan kusedot agak keras. Nampaklah tanda merah di sana. Puas kunikmati dadanya, mulailah ada hasrat yang menuntut untuk berbuat lebih. Tampak juga di wajah Rirrie. Matanya menatapku sayu. Wajahnya memerah dan napasnya memburu. Kalau ia dalam keadaan menyerupai ini, sanggup dipastikan diasedang terangsang berat. Dan saya yakin kemaluannya niscaya sudah basah.
Aku bertanya padanya, “Rie, sekali-kali kita ngewek yuk!” “Ah, tidak mau ah!” ia menolak.
“Kenapa?” tanyaku. “Aku malu,” jawabnya.
“Malu sama siapa?” tanyaku lagi.
“Aku aib diliat bugil. Aku aib kau liat anuku.” terangnya.
“Lho, kau ini aneh. Masa hampir tiap hari kupegang memek kamu, cuma ngeliat malah tidak boleh?” tanyaku keheranan.
“He..” ia tertawa manja. Otakku bekerja mencari akal.
“Atau gini aja, kau ambil selimut buat nutupin tubuh kamu. Ntar kita cari gaya yang bikin memek kau nggak keliatan,” usulku sembarangan, nggak taunya ia setuju.
“Iya dech Mas”
Aku girang setengah mati. Lalu ia pun turun ke bawah mengambil selimut. Tak usang kemudian ia sudah ada di hadapanku lagi dengan sebuah selimut batik di tangannya. Lalu selimut itu diserahkannya kepadaku.
“Nah, kini kau lepas semua pakain kamu!” perintahku.
Dia pun segera melepas semua pakaiannya. Sungguh anggun cara ia melepas pakaian. Perlahan namun pasti. Apalagi ketika ia mengangkat kedua tangannya untuk melepas penjepit rambut yang mengakibatkan rambutnya terurai indah menutupi sebagian pundaknya. Oh, manis sekali dia. Berdiri telanjang tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Layaknya seorang bidadari. Dengan payudara yang kencang mengantung indah, dengan bulu halus yang tertata rapi menghiasi belahan bawah perutnya. Dan ketika sadar dirinya telanjang bulat, secepat kilat ia merampas selimut yang ada di tanganku dan digunakanya untuk menutupi tubuhnya. Kusuruh ia untuk naik ke atas tempat tidur dalam posisi merangkak membelakangiku. Aku segera melepas seluruh pakaianku. Dia menengok ke belakang dan tak sengaja menatap penisku yang sudah tegang berat dan eksklusif memalingkan wajah. Jengah. Sambil merajuk manja. “Ihhh…”
Walaupun kami sering bercumbu tapi kami belum pernah saling mempertontonkan alat vital masing-masing. Kalau saling pegang atau sekedar nyentuh sich sering. Makanya jangan heran kalau ia jengah waktu melihat penisku. Dan lagi ia itu orangnya pasif.
Penginnya “dikerjain” melulu, tapi kalau disuruh “ngerjain” suka ogah- ogahan. Padahal bergotong-royong ia bahagia sekali kalau disuruh memegang penisku. Tapi itulah dia, ia yang seorang Rirrie yang penuh dengan tanda tanya. Yang saya pun masih suka gundah untuk mengikuti jalan pikirannya.
Aku pun segera mendekat membawa seluruh amunisi yang kupunya. Siap dalam duel berdarah. Kuangkat sedikit selimut yang menutupi pantatnya dan harum birahi yang amat kusukai dari vaginanya menyebar. Tanganku pun masuk ke balik selimut itu. Mencari kawasan jajahan yang harus dikuasai. Meraba-raba hingga akhirnya kutemukan gundukan itu. Terasa benar bulu kemaluannya di jariku.
“Aowww… iiihhh! Mas nakal!” Dia protes ketika saya berusaha mencabut beberapa helai bulu kemaluannya. Sebelumnya buat para pembaca, saya melaksanakan ini semua tanpa melihat ke arah vaginanya. Bayangkan, bagaimana sulitnya. Soalnya saya belum pernah menatap eksklusif vagina kini ini. Mulai kupusatkan perhatianku di kawasan selangkangannya. Vaginanya terasa basah. Pasti ia sudah sangat terangsang. Dan kucari letak lubangnya dengan jariku.
“Ah, geli Mas!” ia tersentak ketika tak sengaja tanganku menyentuh klitorisnya.
“Hore ketemu…!!!” saya teriak kegirangan.
Akhirnya kutemukan lubang itu. Kumasukkan seperempat jari telunjukku ke dalam vaginanya. Sebentar kuputar-putar disana. Pinggulnya bergerak-gerak tanda ia kegelian. Lalu kutarik kembali dan kini pelan-pelan kusorongkan rudalku untuk mencoba menembus dimensi itu. Saat pertama penisku menyentuh vaginanya, secara refleks ia mengatupkan kedua kakinya.
“Dasar perawan..” kataku di dalam hati.
Lalu perlahan kucoba merenggangkan kakinya. Terasa ada penolakan halus disana.
“Ayo dong sayang, direngganging sedikit kakinya. Katanya pengen di entotin.”
Dia nurut, perlahan ia mulai mengangkangkan kedua kakinya. Rudalku pun kembali mencari sasarannya. Mulai melekat di bibir vaginanya. Terasa hangat di situ.
“Aduh Mas, saya deg-degan nich” “Udah kau hening aja dech!”
Perlahan tanganku mencoba untuk membuka tabir itu. Kugunakan jemari tanganku untuk menguak vagina itu. Sedikit terbuka. Dan kucoba memasukkan penisku. “Bless!” Kepala rudalku mulai masuk, menciptakan Rirrie mengerang kesakitan, membuatnya sedikit tidak nyaman.
“Aduh, Mas, sakit nich!” ia merintih.
Kepalanya mendongak ke atas dengan mimik menahan rasa sakit. “Tahan sebentar ya sayang! Sakitnya paling cuma sebentar kok.” Kasihan juga sich melihat ia begitu. Tapi demi kenikmatan itu apa boleh buat.
Namun ketika kepala rudalku mulai menguak masuk vaginanya, terasa ada energi yang sangat besar lengan berkuasa dari dalam vaginanya mencoba untuk menyedot penisku biar masuk ke dalam vagina itu. Sampai pinggulku tertarik maju menciptakan seluruh penisku melesak ke dalam lubang itu.
“Sleep…”
“Ah, Mas sakit nich!” “Tapi kok yummy ya Mas?”
“Makanya kalo pengen lebih yummy jangan ribut terus!” kataku.
“Enak tapi kok asing ya Mas? Kayak ada yang ngganjel,” ia ngomong sekenanya. Aku pun tertawa.
“Kamu santai aja dong, jangan tegang gitu.”
Dia menuruti perintahku. Dan sensasi yang belum pernah kami rasakan mulai meresap di diri kami. Penisku rasanya menyerupai diremas-remas lembut sekali oleh suatu benda asing yang hangat dan berair tak dikenal, disedot-sedot oleh vaginanya. Duh.. nikmatnya luar biasa. Mataku hingga nanar menahan kenikmatan itu. Lembab namun terasa sangat nyaman. Mulai kugerakkan maju mundur pinggangku, kugenjot penisku perlahan dan kemudian bertahap kupercepat genjotanku, adakala kupelankan sambil kubenamkan sedalam- dalamnya ke lubang vaginanya hingga ia menjerit, “Mas.. Mas aduh yang ini sich yummy banget.. tusuk lagi dong yang keras Mas!” Rirrie memohon.
Langsung saja kuturuti permintaannya. penisku bergesekan dengan dinding vaginanya yang membuahkan kenikmatan tersendiri bagi kami. Mengakibatkan suara berdecak yang mengiringiku menuju sejuta kenikmatan. Tidak usang kemudian Ririe mendesah jago sambil badannya bergerak ke sana-kemari, cepat sekali, badannya meliuk-liuk, tangannya meremas- remas sprei tempat tidur hingga acak-acakan.
“Uuuhh.. yummy sekali Mas.. pelanin dong nyodoknya,” rintih Rirrie. Kuturuti kemauanya.
“Uh!” nikmat sekali rasanya.
Kupompa perlahan-lahan sambil kunikmati kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuhku. Sebentar-sebentar ia menggoyangkan pinggulnya, seperti ingin biar penisku juga mencicipi kenikmatan itu. Kedua belah tanganku bergerak kesana kemari menjelajahi belahan belakang tubuhnya. Kujambak rambutnya dan kudongakkan kepalanya. Kubungkukan badanku kemudian kuciumi punggungnya. Kujilati leher itu. Kutampar perlahan pantat Rirrie. Dia menjerit kecil. Tanganku pun mengarah ke depan menyambar payudaranya yang menggelantung tak berdaya. Manggut- manggut mengikuti gerakan badannya. Membuatku semakin horny. Payudaranya terasa lebih keras dari biasanya. Mungkin alasannya ia sedang dalam kondisi terangsang puncak.
Kuremas-remas dengan kasar. Kupilin-pilin putingnya dan, “Plop…” ya ampun puting itu terlepas. Rambutnya yang panjang melambai-lambai mengikuti irama genjotanku. Matanya terlihat amat sayu dan sebentar- sebentar terpejam. Hingga akhirnya…
“Adduuhh.. Rirrie tidak besar lengan berkuasa lagi Mas..” “Rirrie pengen pipis..”
“Masss.. aaakhh..”
Kurasakan ia menekan vaginanya sedalam mungkin sambil menggoyang- goyangkan pinggulnya dan mengatupkan kedua kakinya yang menciptakan penisku semakin keras terjepit. Namun sungguh, tindakannya justru makin menambah nikmat ukiran yang kurasakan. Tubuhnya tersentak dan bangun tegak membelakangiku. Kepalanya disandarkan di bahuku.
“Masss.. yummy sekalii.. Hmmm..”
Lalu kulihat kepalanya mendongak ke atas dan kedua bola matanya membalik menyerupai orang kesurupan. Tangannya bergerak ke belakang memeluk tubuhku. Dan menekan besar lengan berkuasa tubuhku seolah ingin menyatukan dengan tubuhnya. Intensitas denyutan vaginanya semakin tinggi dan kekuatan menyedotnya pun bertambah besar. Yang mengakibatkan penisku terasa semakin tertarik di liang senggamanya. Kupercepat lagi genjotanku. Dan akhirnya…
“Ohhh… aaakhhh.. ouch… Mas enak!”
Teriakannya keluar seiring orgasme yang dicapainya. “Seerrr…” cairan bening pun keluar membasahi liang senggamanya. Banjir. Kurasakan suhu di sekitar situ bertambah panas. Sekian usang berlalu tapi Rirrie masih terus memejamkan matanya dan menekan besar lengan berkuasa pinggulnya. Menggerak-gerakannya kekiri dan kekanan. Mencoba untuk menyerap segala kenikmatan yang gres pernah dirasakanya. Dia meracau tak karuan. Saat orgasme yang dialaminya berakhir, ia pun terkulai lemas. Menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan mata terpejam. Dalam posisi nungging. penisku terlepas dari vaginanya. Tubuhnya bermandikan keringat. Semakin menambah pesona kecantikan tubuhnya. Tak sengaja saya melihat kawasan selangkangannya. Ternyata bentuk vaginanya bagus sekali.
Vaginanya yang berwarna merah jambu nampak merekah sedikit monyong dan labia minora-nya nampak sedikit menjorok keluar. Mungkin alasannya tadi rudalku berkali-kali membombardir pertahanannya. Vagina itu berdenyut-denyut dan berkilat terkena cahaya. Sedikit darah keluar dari dalam vaginanya perlahan turun mengalir ke pahanya. Ternyata ia masih benar-benar perawan. Kubiarkan ia untuk mengatur detak jantungnya. Agar bisa menghimpun kembali energi yang secara mendadak dikeluarkannya. Sepertinya ia agak shock. Maklum, pengalaman pertama.
“Mas… yang barusan itu yummy sekali.” Dia berbisik sambil menatapku dengan senyum kecil di sudut bibirnya. Senyum penuh kepuasan. Lalu kurebahkan tubuhnya sehingga ia dalam posisi tengkurap tidur, saya pun merebahkan tubuhku menindih punggungnya. Tanganku bergerak kembali ke arah selangkangannya. Becek sekali di sana. Kucari kembali letak liang senggama itu.
“Ayo sayang buka kembali nirwana kamu,” pintaku.
Perlahan ia mengangkangkan kembali kedua kakinya. Dan kini giliranku untuk memetik kemenangan itu. Begitu melihat Rirrie membuka sedikit saja selangkangannya, semangatku eksklusif membara lagi. Kuambil ancang-ancang untuk memasukkan kembali penisku. Satu.. dua.. tiga.. dan, “Bleess…” dengan mudahnya penisku menembus vaginanya. Tanpa permisi dan alasannya sudah tidak sabar eksklusif kugenjot dengan kecepatan tinggi. Tak usang kemudia kurasakan seluruh urat nadiku menegang dan darah mengalir ke satu titik. Aku akan mencapai orgasme.
“Rie, Mas mau keluar nich..” “Gantian Ya?”
“Iya Mas, dienak-enakin lho!”
Rirrie berkata sambil kembali mengatupkan kedua kakinya. Terasa ia sedikit mengejan untuk memberi kekuatan di kawasan perutnya yang menjadikan otot-otot di sekitar vaginanya kembali mencengkeram kuat. Semakin kupacu genjotanku dan akhirnya pada ketika akan terjadi titik kulminasi kuangkat tubuhku dan kutarik penisku keluar dari vaginanya dan eksklusif kubalikan tubuh Rirrie dan kuraih tangan kanannya kemudian kusuruh ia mengocok penisku. Kutarik kepalanya mendekati penisku. Penisku menyerupai dipompa hingga bocor. Air maniku pun menyembur kencang dalam genggaman tangannya. Mengenai wajahnya. Aku melenguh. Kulihat air maniku menetes di sprei tempat tidur. Air maniku tampaknya tidak mau berhenti. Tanganya yang lembut terus mengurut penisku dengan cepat, mengusap-usap kepala rudalku dengan ibu jarinya. Sampai air mani terakhir menetes di tangannya. Aku mencicipi kenikmatan yang luar biasa. Sampai terasa ke tulang sumsum.
“Enak Mas?” tanya Rirrie. Aku mengangguk.
“Belum pernah saya mencicipi yang se.pertii.. ini,” jawabku terbata- bata.
Aku merasa tubuhku lelah sekali. Lemas tak berdaya. Rirrie mendekatkan wajahnya ke rudalku, dan dengan sangat-sangat lembut dikecupnya kepala rudalku berkali-kali sambil berkata, “Kamu benda kecil tapi bisa bikin orang gede kepayahan.”
Aku tersenyum mendengar ucapannya. Rirrie memandangku dengan mesra sambil menebarkan senyum penuh pesona. Aku eksklusif roboh di atas tubuhnya. Menindih tubuhnya. Kugigit perlahan lehernya. Kujilat dagunya. Kukecup lembut bibirnya. Rirrie memeluk saya sambil mengecup lembut pundakku.
“Mas kapan-kapan kita ngewek lagi ya Mas?” pintanya.
“Iya sayang. Suatu ketika kita bakal ngewe lagi.. Kita cari gaya yang lainnya,” jawabku perlahan.
“Sekarang Mas pengen bobo dulu. Mas kecapean nich,” saya memohon. “Iya dech Mas,” balasnya.
“Mas.. Rirrie tambah sayang dech sama Mas.”
Dan saya pun mendapat ciuman paling hangat di bibir dalam sejarahku bersamanya. Lalu tangannya turun ke bawah memegang penisku yang sudah lembek dan meremas-remasnya dengan lembut hingga ia terlelap. Kemudian kupeluk tubuhnya, kukecup keningnya lembut dengan berjuta perasaan yang ada. Dengan sisa kekuatan yang ada, kuangkat badanku dan balik posisi badanku hingga kepalaku berada di antara selangkangannya. Kukecup lembut vagina itu. Kujilat sedikit lendir yang membasahinya. Kunikmati sebentar pesona vaginanya dengan mulutku. Lalu akupun memejamkan mata. Kami pun tertidur meninggalkan senyum kepuasan di bibir kami.

0 Response to "Kumpulan Dongeng Seks 2019 - Abg Smu Pengen Ngerasain Ml"
Posting Komentar